Pleketek kewes kewes

Om (adek dari ibu) sering mengatakan ini padaku kalau aku mulai asal menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Kali ini, giliranku yang mengatakannya, bukan untuk om-ku, tapi untuk beberapa hal yang seakan begitu klise terjadi padaku. Perlakuan yang membuatku kehilangan makna karena terus berulang. Kata-kata yang bermakna ambigu tanpa mau menjelaskan arti harfiahnya. Keputusan yang bisa ditebak arahnya.

Entahlah, aku kehilangan makna. Atas peristiwa. Atas kata. Atas ekspresi.

suka. benci. rindu. cinta. dusta. senang. riang. duka.

Ah opo iku, pleketek kewes kewes!!


Eid Mubarak

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Indonesia punya dua perhitungan untuk menentukan kapan 1 Syawal tiba. Dengan rukiyat dan hisab. Biasanya perbedaannya satu hari. Rukiyat ini konon adalah penentuan 1 Syawal dengan terlihatnya hilal (bulan baru), sedangkan hisab kabarnya adalah penentuan dengan perhitungan kapan bulan Ramadhan barakhir (artinya bulan sudah selesai memutari satu putaran bumi dalam kalender Hijriah). Sehingga mau tidak mau, pastilah hisab lebih bisa memberi kepastian jauh hari sebelumnya.

Either way, terserah Anda mau menganut yang mana, asalkan tidak saling memaksakan. Yang jadi masalah adalah pemerintah baru menentukan 1 Syawal di detik2 terakhir, saat sebagian Indonesia sudah mengumandangkan takbir. Walhasil bagi yang menjadi pengikut pemerintah, ditundalah Lebaran mereka satu hari. Sedangkan bagi saya dan sebagian besar penduduk kota Yogyakarta, kami tetap berlebaran esoknya alias tidak ikut pemerintah. Nah ini kemudian digembar-gemborkan oleh media, sehingga perbedaan lebaran yang biasa terjadi setiap tahun menjadi masalah besar tahun ini dengan diwarnai kerusuhan di beberapa daerah (menurut info seorang teman wartawan).

Mau jadi apa bangsaku ini kalau tidak pernah bisa menyikapi perbedaan. Ya, deviasi akan selalu ada dari tatanan yang sudah rapi, tapi ya jangan sampai dong deviasi itu lebih besar dan lebih heboh dari tatanan tersebut. Maksudnya, walopun saya yakin banyak dari kita yang sangat terbuka dan toleran, tapi jangan sampai yang toleran ini tertutupi oleh yang biadab. Disikapi secara santai ajalah, why so serious. Kita kan gak berhak atas hidup orang lain toh, gak berhak atas pilihan2 orang lain juga.

Jadi…Eid Mubarak! Mohon maaf lahir batin, semoga kehidupan di muka bumi menjadi lebih baik tahun ini dan kedepannya. Amin.


a cry and a laugh

“Kamu gak lagi kenapa2 kan nga?”, iya dia selalu memanggilku singa, katanya rambutku mengembang seperti raja hutan.

“Kenapa2 banget”, malas aku menanggapi pesan singkatnya itu.

“Ih kok singanya galak gitu ih, nanti tukang becaknya ngambek lho”

“Terserah”

“Kamu lagi apa”

“Dibilangin lagi nangis juga, masih nanya!”

“Lho gara2 apa?”

“Tenang aja bukan gara2 kamu kok, simpati kamu masih belom nyala?”, yah dia pasti khawatir aku marah padanya.

“Masih :( nga, kamu lagi apa”

“Auk ah!”

Lalu sebuah nomor telepon genggang Jakarta ber-provider sama denganku masuk ke Blackberry-ku.

“Selamat malam”

“Vit…”

“Lho nomor siapa ini?”

“Nomor ibuku, aku bajak aja, abis kamu nangis”

Berbahagialah dia yang menelponku malam itu, karena aku sungguh sedang seperti macan yang diajak berantem (he?perumpaan macam apa ini). Aku keluarkan semua kegelisahanku, aku umpat semua keadaan, dan tentunya dia hanya menjawab..”Sabar Vit, sabar..”

“Sabar sabar! Gampang buat kamu ngomong sabar!”

“Kalau aku bisa aku juga mau ada disana”

“Hhhhhhhh udah ah”, dan akupun menangis sesenggukan, meninggalkannya bingung sendiri di seberang telpon.

Dia tau, cara  menenangkanku yang sedang mengamuk adalah diam. Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit. Lalu tawaku mengikik…

“Bodo banget ya aku pake nangis sampe kayak gitu”

Barulah seribu satu wejangan mengalir dari mulutnya. Aku yang mulai waras mendengarkan dan berkomentar..”Tumben omonganmu bener”

Itulah dia, yang tidak pernah bisa aku maknai kehadirannya, bahkan sampai saat ini.


Apakah bahagia itu?

Saya tidak percaya pada akhir yang bahagia. Bagi saya, segala jenis bahagia, sedih, susah, senang, adalah bagian dari proses. Dan akhir adalah ketika kita menghembuskan nafas terakhir kita.

Sewaktu saya duduk di bangku sekolah dasar, bagi saya bahagia adalah selesai mengerjakan ebtanas, lulus dengan nilai cukup untuk masuk ke SMP favorit di Jogjakarta. Arti kebahagian bergeser ketika saya masuk ke sekolah itu. Bagi saya, bahagia adalah bisa bermain bersama teman-teman saya dan tetap mendapat nilai bagus untuk melanjutkan ke SMA favorit di seberang SMP saya.

Oke, saya masuk SMA favorit. Lalu apa? Saya merasa kebahagiaan saya yang kemarin tiba-tiba hilang dan menjadi kebiasaan saja. Ulangan, mencontek, ngecengin kakak kelas, bolos, berantem sama teman dan keluarga (maklum puber) dan lain-lain. Tentunya karena saya bertumbuh maka saya punya cita-cita juga. Saya ingin masuk jurusan Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada. Nama besar kampus biru membuat saya stress bukan kepalang mengejar passing grade masuk ke jurusan tersebut. Lalu loloslah saya, alhamdulillah.

Saya kuliah, berteman dengan banyak orang, mengerjakan banyak ekstrakurikuler dan untungnya sudah tidak mencontek lagi karena saya benar-benar mencintai apa yang saya pelajari. Saya bahagia. Ya saya bahagia ketika saya SMA, ketika saya kuliah, dan sepanjang hidup saya.

Tapi kebahagiaan itu tidak mutlak. Tidak melulu saya bahagia karena mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya ingin ke luar negeri saya berangkat ke Australia, gratis pula. Apakah saya bahagia? oh sangat! Sepulang dari Aussie saya cari kerja dan mendapatkan pekerjaan yang bagus di perusahaan BUMN. Apakah saya bahagia? Wah, tidak mungkin tidak.

Tetapi apakah bahagia itu semudah itu urusannya? Saya pikir tidak juga. Bahagia mendapatkan hal baik belum tentu dalam perjalanannya membuat kita bahagia. Cita-cita saya sekarang menikah dan melanjutkan S2, lalu saya lihat lagi ke orang-orang disekitar saya dan pengalaman-pengalaman saya. Apakah mendapatkan cita-cita menjadi indikasi kebahagiaan? Tidak juga, kebetulan alhamdulillah dalam kasus saya, saya benar-benar bahagia. Tapi saya tahu, bagi orang di sekitar saya mungkin mendapatkan apa yang selama ini dicita-citakan tidak membuat bahagia. Lalu, salah siapa? Bukan salah siapa-siapa juga. Mungkin dalam mendapatkan apa yang kita inginkan kita seringkali lupa pada prosesnya.

Jalan yang baik akan menghasilkan kebaikan. Begitupun cita-cita. Bila kita ingin membahagiakan orang tua, jangan lupa berdoa selain hasilnya, kita berdoa supaya Tuhan memberkahi prosesnya, agar lengkap doa kita. Kitapun harus sabar menjalani proses tersebut. Jangan gegabah memutuskan hanya demi sebuah hasil.

Bahagia adalah proses itu sendiri, siapa yang tau hasilnya. Maka, nikmatilah setiap proses kehidupan dengan bahagia dan tidak berhenti mencari kebahagiaan. Kita, sebagai manusia, pasti tidak ingin kebahagiaan hanya semata hasil pencitraan. Bahagia ada di sini, tidak usah dicari kemana-mana. Jangan lengah, semua yang kita anggap bahagia pun bisa terenggut. Maka tetaplah bahagia…apapun yang hidup suguhkan kepadamu. Karena pada akhirnya, semua ini bukan apa-apa…selamat malam teman…:)


The lights will inspire you

It’s a small scene I’ve dream about. Every single details concerned. The way the wind blows, even the sound of footsteps coming in. I have heard a thousand times, make a thousand plans, about this small little scene.

I have thought about the music on the background, the amount of light use for the conversation. Even the color of the dress.

It all seems so real, in my dream. I know, there are things I haven’t counting in, and my life will fill it.


Sekotak susu

“Bisa gak kita mampir dulu di minimarket?”

“Disini ta?”

“Iya, kamu mau titip apa?”

“Nggak deh, aku tunggu di mobil aja ya”

Dan turunlah si perempuan dari mobil Korea itu, sambil berlari kecil, tak tega membiarkan si teman menunggu terlalu lama.

“Cepet banget”

“Iya, nih aku beliin susu”

“Waaaa kamu so sweet banget sih”

“Iya dong, kan biar sama mimiknya”

“Kita soulmate ya, mari berpegangan tangan”

“Hihhihihihi”

Pasti suatu hari nanti ketika jalan hidup membawa kita pada pilihan yang berbeda, aku yakin, aku dan kamu, kita pasti akan merindukan adegan-adegan konyol ini. Potongan cerita tidak penting yang kita rangkai setiap hari. Berbagi lelucon asal yang melintas di otak kita tanpa perlu sensor. Bercerita masa lalu bagai semua ada di depan mata.

Iya, tawa dan ekspresi mata itu, tidak mudah tergantikan oleh sosok orang lain. Cuma kamu!


Si lelaki dan si perempuan

“Lg jumatan?”, pesan gratis blackberry kepada sesama penggunanya.

“Lg kerja”, jawabnya disertai ikon bulat kuning yg menunjukkan gigi depannya.

“Oh, gak jumatan? I need you…”

O yeah so scared of breaking it that you won’t let it bend..(suara dering dari hape si perempuan)

“Halo”

“Kenapa?”

Pembicaraan satu menit sebelum si lelaki solat jumat hanya terisi tangisan si perempuan.

“Nanti habis solat aku telepon lagi ya”

“Iyo”

Malam itu si lelaki kembali menelpon si perempuan.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

Dan pembicaraan satu jam itu, sekali lagi hanya berisi 45 menit tangisan si perempuan dan 15 menit suara si lelaki yang selalu bisa membuat si perempuan merasa tidak pernah salah untuk menelponnya.

Si lelaki tidak kemudian congkak dan si perempuan tidak menjadi rendah diri dengan hubungan mereka.

Rasa. Bila benar rasa adalah sesuatu yang bisa dibentuk, hanya sebuah persepsi, maka rasa yang ini melampaui semua penjelasan tentang rasa yg pernah si perempuan baca di kamus manapun.

Dia tidak pernah marah kepadaku. Dia tidak pernah meminta ini itu. Dia akan melakukan apapun untukku. Dia tanpa pamrih. Dia selalu ikhlas. Paling tidak kepadaku. Mungkin dunianya tidak seindah yang dia inginkan, tapi bagi kita berdua semua yang tidak indah itu kita sajikan dengan bahasa kita, membuatnya jauh seakan hanya di angan-angan, menertawakan keadaan.

Aku sudah tidak pernah marah kepadanya, tidak semenjak aku dan dia harus berada jauh. Tidak semenjak aku pernah merasakan sakit hati yang sangat dengan lelaki lain, tidak juga semenjak tahu bahwa setelah semua sakit hati, akhirnya kami akan saling mengangkat telepon dan saling menangis tertawa, atau bahkan hanya untuk diam bersama.

Mungkin ini sebuah utopia. Perasaan ini lebih dari semua rasa itu. Lebih dari rasa di serial romantis, dari lagu cinta, dari novel Nicholas Sparks sekalipun.

Saat ini aku hanya butuh kamu, hanya butuh keberadaanmu, meski itu berarti satu jam penerbangan atau dua belas jam perjalanan darat. Aku tahu, bagi kita sampai kapanpun, jarak dan waktu tidak akan menjadi masalah. Sungguh…aku tidak bohong, I really need you…


Saya marah dan saya bangga

Marah rasanya melihat apa yang terjadi di sekitar kita. Hal kecil yang menurut saya prinsipil dianggap sebagai “mainan” oleh orang lain. Oleh orang-orang besar itu dan orang-orang yang menjilat pantat orang besar itu. Iya saya benar-benar marah. Saya memang bukan orang yang punya pengaruh untuk bisa mengubah keadaan dengan kemarahan saya. Tapi saya punya prinsip yang tidak bisa saya ubah dan saya bangga dengan itu.

Mungkin menurut anda meminta perempuan berpakaian seksi atau menampilkan penari setengah telanjang di acara umum menjadi hanya semacam hiburan, tapi bagi saya itu pelecehan seksual. Perempuan berakal sehat mana yang tidak tersinggung melihat hal semacam itu melenggang dengan tanpa ada satu pihakpun yang berusaha menghentikan, malah beralasan “yah buat seger-segeran”. Sayangnya banyak acara cerdas lain yang bisa menghibur anda tanpa menimbulkan sebuah bentuk pelecehan terhadap jenis kelamin atau kaum tertentu, dan otak anda yang nota bene pintar itu tidak bisa menemukannya. Coba belajar lagi ke anak-anak anda yang masih di bangku sekolah, mereka pasti punya segudang ide yang lebih cerdas. Saya heran, jaman sekarang masih ada ya bentuk praktek pelecehan seperti ini. Di saat semua orang sadar dan mengagung-agungkan hak asasi manusia, hak hidup merdeka dan lain-lain.

Semua yang kecil menjadi cermin kepribadian kita, dan saya selalu percaya itu, tentunya sikap anda terhadap hal ini menjadi jawaban atas siapa anda sebenarnya. Jangan jadi orang yang kalah yang tertindas oleh sikap-sikap rendah semacam itu dan berdiam diri saja melihatnya, setidaknya suarakanlah meski mungkin mereka yang “terlalu besar” itu tidak mendengar Jadi saya bersuara meski saya hanya wong cilik dan sebagai wong cilik yang mendengarkan saya juga wong cilik. Sebagai wong cilik, kami bangga kok dengan integritas kami. Semua lip service anda sudah kami ketahui kadar akurasinya.

Saya bangga dengan kemarahan saya, dan saya bangga bahwa mental saya tidak dikerdilkan oleh uang dan kuasa.


Everything about you

Malam tadi aku merayakan ulang tahunku yang tentunya terlambat satu hari. Mau gimana, on my birthday, I spent the night in the train, on my way home. So, disinilah aku, Jogja tercinta bersama teman-temanku.

“Jadi ketemuan? Mungkin besok ya mba, ibuku masih di RS”, aku mencoba menawar yg berarti birthday celebration will be 2 days late but that’s okay by me.

“Terserah kamu mbak, it’s ur birthday”, oka bolanya ada di aku lagi, “We’re having a party tonight if u wanna join”

Hm, ajakan ini selalu menggoyahkan imanku.

“Okaylah tonite aja, nanti jemput dan antar aku ke RS ya, jadwal jaga ibuku malam ini”

“Done!”

Jam 7 kami berangkat, bersama dua Germans rekan kerjanya. Salah satunya adalah rekan kerja sekaligus pacarnya.

Menikmati makan malam di Prawirotaman, wow rasanya it’s been years since I got here. Tempat yang lumayan beken ini biasanya jadi tempat pameran seniman muda Jogja. Di jalanan ini kita bisa sekedar jalan menikmati banyaknya losmen dan tempat makan yang sebul (selera bule).

Temanku mulai mengenalkanku pada temannya, teman yang lainnya, teman yang satunya, sampai beberapa orang lagi setelahnya, kami sampai di tempat yg katanya “party” itu.

Awalnya kupikir, ‘oke ini sudah bukan era-ku’ melihat banyaknya abege-abege disitu. Lalu satu persatu adegan dan pemeran seperti menarikku ke dalam lingkaran itu, lorong waktu dimana semua masih menjadi masa-ku. Great friends, dirty talk, hugs and kisses to all, musik indie, logat jawa lengkap dengan pisuhannya, dan tentunya asap rokok dan aroma alkohol.

Teman-temanku mulai berdatangan, tanpa ada janjian. Lalu obrolan mengalir saja, tanpa ada basa-basi. Lalu semua menjadi akrab, beberapa bahkan tanpa perlu kenal sebelumnya. Lalu semua menjadi intim tanpa menjadi murahan. Disitulah kami, menertawakan usia yang masih muda dan bergairah. Menghirup aroma kebebasan dan segala konsekuensinya. Menikmati segala sisi baik dan buruk tanpa sanksi sosial yang munafik.

Semua kenyataan itu, membangunkan kesadaranku, bahwa aku masih manusia yang sama, yang bebas dan bahagia. Batas hanyalah langit. Mari, angkat gelasmu untuk pejuang-pejuang kebebasan ini. You just can’t define someone, let them be. So be it.

Suara vokalis Ugly Kid Joe semakin menghentak dari laptopku, let’s scream…i i i think sex is overrated too…and i…hate everything about you..dum dum dum dum dum dum!

 


Ujung Dunia

Apa yang kamu harapkan?

Mungkin bukan kita.

Bohong kalau aku tidak pernah mengharapkan kita. Karena ketika kamu jatuh cinta yang bersarang di benakmu hanyalah kita.

Sedikit berharap mungkin. Sebenarnya tidak sedikit juga. Kalaupun sedikit itu karena mekanisme pertahanan diri supaya kalau kita tidak jadi ada maka kita tidak terlalu kecewa.

Aku mencintaimu. Bukan untuk kita yang aku yakin tidak akan pernah ada.

Aku mencintaimu karena aku masih mampu memiliki rasa ini. Yang datang mengetuk tiba-tiba dan entah dari mana.

Aku mencintaimu karena rasa-rasa yang timbul ketika bersamamu. Buih-buih di lautan yang menjadi indah luar biasa. Matahari pagi yang menjelma menjadi keajaiban bagiku. Hanya mungkin ketika kamu disampingku. Ah tidak perlu disampingku, membayangkanmu saja cukup.

Aku mencintaimu karena kamu mampu menunjukkan kehebatan rasa itu padaku.

Seribu satu alasan yang lain masih bisa aku berikan, tapi bukan itu yang kita perlukan. Mencintaimu tidak ada di agendaku, tapi membuatku tahu bahwa perasaan yang paling manusiawi di dunia ini masih aku rasakan meski itu kepadamu.

Kita berbeda. Dan ini tidak bisa ditolerir. Tapi perasaan kita sama. Itu sudah cukup menjadi anugerah bagiku.

Surabaya, one time in 2010.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.