Aku melihatnya menahan perih dijarinya.
“Kenapa?”
“Gak papa, lecet”
Sejak pembicaraan kami lima belas menit yang lalu, dia terus menekan jarinya ke lampit tempat kami duduk. Emosinya terlalu keluar saat ini, mungkin dia harus menahannya dengan menyakiti diri sendiri. Aku hanya memegang tangannya untuk meredakan semua, sambil bercanda tentunya.
“Udah dong, tapi mukanya jangan sedih gitu”
Dia tidak bereaksi selain senyum kecut seadanya.
Kami diam. Memandang sungai dan lampu-lampu kota dari atas sini. Mencoba mencari pembenaran atas keputusan-keputusan yang dirasa kurang tepat. Mencoba berdamai pada hidup masing-masing. Merenungi semua yang menjadi mimpi dan menerima yang menjadi kenyataan saat ini. Mengusir bosan dengan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak tahu apa.
“Kadang aku ingin kembali mencoba semuanya dan keluar dari kemapanan dan rutinitas, tapi aku takut umurku semakin tua dan aku belum dapat apa-apa”
“Hm, jawabanku akan terdengar sangat klise, totalitas”
“Totalitas gimana? Semua teman-temanku total, tapi yang sukses ya Cuma satu-dua, padahal ada seratusan yang total”
“Iyah, makanya aku bilang klise. Sebenarnya totalitas kita terus menjadi terhambat karena satu-dua orang itu. Karena kita udah terlalu takut menjadi total karena melihat kenyataan bahwa dunia hanya berpihak pada 2-3 persen orang yang total. Kita takut menjadi 98 persen sisanya. Ketakutan itu yang buat kita jadi gak total dan lagi-lagi, mengalah pada realitas”
“Nah itu dia!!”
Kembali diam.
“Hujan”, katanya ketika melihat rintik-rintik hujan jatuh diatas sungai.
“Kamu belum terlalu tua untuk memulai, apalagi aku lihat kamu berusaha memulai. Paling nggak, kamu gak cuman berencana”.
Usia kami memang tidak terpaut jauh. Hanya tiga tahun. Tapi yang kami hadapi di depan kami memang berbeda. Cukup berbeda. Mungkin itu yang membuatnya selalu mengeluarkan emosinya yang satu ini ketika bersamaku. Dan membuatku merasa tidak bisa berkontribusi apa-apa pada emosinya karena aku tidak berada dalam posisinya.
“Yuk, hujannya udah berhenti”
“Masih ah, tuh…”, kataku sok tau karena melihat air masih berkecipak.
“Itu ikan sayang……..”
“Oh, baiklah. Yuk!”
Malam itu, belum terlalu malam. Masih jam 11. Kami menyusuri jalan-jalan di kota metropolitan kedua setelah Jakarta ini. Ngebut. Yah, dia memang suka ngebut.
Lalalalalalalalalala…lalalalalalalala…now that I’ve lost everything to you…
“Halo?”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam ya habib! Sori baru ngangkat, barusan aja sampe kos”
“Walah kamu baru pulang jam segini tuh ngapain aja? Dugem?”
“Ya enggaklah, dugem mah jam segini baru berangkat. Hahaha…”
“Dasar kamu itu tetep aja”
“Enggaklah mas, aku tuh jadi anak baik-baik disini. Abis gak terfasilitasi. Hwehehe…yo opo ceritane pak? Kayaknya ada yang jadi workaholic nih”
“Enggaklah, aku baru pulang jam sembilan tadi. Yah gitulah, tar kalo aku cerita kamu iri”
“Please deh….aku udah gak ngiri ma Jakarta lagi”
Menerima telponmu selama satu jam membuatku kembali ke duniaku yang lain. Dunia dimana aku tidak mengenal dia. Dunia dimana aku berbagi tangis dan tawa denganmu dan dengan yang lain. Dunia dimana kita selalu memperdebatkan kebahagiaan. Dunia dimana kita sangat beruntung dan seringkali tidak mensyukuri itu.
Aneh rasanya sebuah dering telepon bisa membawamu ke dunia lain. Sepertinya, ketika berbicara dengannya aku speechless dengan segala emosinya. Lalu denganmu, aku terus menerus menertawakan kehidupan karena kita sudah lelah dengan perdebatan tentang menjadi bahagia.
Ah udahlah, apa itu bahagia juga aku tidak tahu. Apakah itu hanya persepsi manusia atau memang sesuatu yang eksis.
Belajar dari dunianya dan duniamu membuatku bisa membuat duniaku sendiri yang berwarna.