Menikam jejak

Menelannya saja mungkin tidak susah, asal menahan nafas dan tidak mengaktifkan indera perasa di lidah. Lalu, dimana enaknya?

Menyanyikannya saja juga pasti lancar, meski nada lari kemana-mana, tidak mengikuti iringan musik yang mengalun indah.

Membacanya mungkin malah bagian paling susah. Karena mau tidak mau kita jadi berimajinasi dan berharap akhir ceritanya akan seperti yang kita inginkan, padahal adalah sudah dituliskan oleh sang pengarang bagaimana akhirnya tanpa menunggu pesetujuan kita.

Mungkin sekarang saatnya untuk menajamkan lidah, untuk memekakan telinga, dan menurunkan ekspektasi.

Belajarr mengunyah lebih pelan, mencerna dengan hati-hati, menyanyi dengan perasaan, dan yang pasti membaca dan mengetahui bahwa akhir ceritanya tidak di tangan kita. Belajar membuat kisah sendiri yang lebih sesuai dengan ekspektasi kita.

Leave a comment »

I’m thinking of giving up

After all we have been through…

I’m giving up on you…

Comments (1) »

You drive me crazy

Before we chase what we called as “future”, we have to settle down first. Try to talk about it seriously, without fearing any uncertain upcoming circumstances.

Sometimes we really have to take the chance as if it will never comes again. Sometimes what we need is not “time” but “courage”. Sometimes when you think it’s just a game, it’s actually not.

You never say a word, neither do I. Maybe it’s just one phase in our life, even if you are not the answer, hope you’ll be part in finding one.

Comments (1) »

Tentang pria berseragam

“Kalau saya buka yang ini, saya dapet duitnya berapa mbak sepuluh tahun lagi?”

“Ya sepuluh juta sekian mas”

Sudah lima belas menit orang ini menanyakan hal yang sama berulang kali. Tapi aku tak kunjung melihatnya menulis aplikasi di atas meja. Tenggorokanku mulai kering.

“Tapi kalau saya nabung segini, saya makan apa dong mbak?”

“Kan dapet jatah dari mess?”, ujarku sok tau.

“Yah kalau baru pendidikan gini sih dapet jatah mbak, tapi nanti kalau udah penempatan ya pake uang sendiri. Sedih deh mbak, makanya jangan mau punya suami tentara”

“Lha, makanya mas, kalau cari istri juga yang kerja dong. Jadi kan bisa bantuin mas buka tabungan”

“Ah mbak, bisa aja promosinya”

“Ya iya dong mas, namanya juga usaha”

“Mbak, kalau saya buka yang ini, lima tahun lagi saya dapet uang berapa?”

“Enam jutaan mas”

“Yah gak cukup buat dong buat nikah”, ada ada saja alasan dia.

“Nikah kan murah mas, tinggal ke KUA bayar 5000 beres”

“Terus gak resepsi mbak?”

“Ya gak usahlah”, jawabku sekenanya.

“Trus apa kata komandanku nanti? Bisa-bisa aku dipukulin sebatalyon”

“Hehehehe….”

“Kalau jadi tentara belom nikah susah mbak, karirnya susah naik”

Apakah saat ini masih jaman pernikahan jadi komoditas pria untuk sekedar menaikkan karirnya? Sepertinya masih. Aku melirik tahun kelahirannya di aplikasi sebelumnya. 1980. He looks younger that that.

“Lho kok mikirnya gitu sih mas”

“Lho, beneran lho mbak. Nanti siapa yang mau ngurusin organisasi istri-istri tentara”

Hmpfh…

“Jadi kalau aku mau dapet seratus empat belas juta, aku harus setor berapa sebulan?”

Okay, ini pertanyaan yang kesekian ratus kalinya. Aku melihat dua rekan di sebelah kanan kiriku berganti nomor antrian sekian kali, dan aku masih saja bersama dia.

“Masak aku beli rumahnya sepuluh tahun lagi, trus kapan nikahnya, kalau istrinya kerja di bank, pasti saya gak pusing mikirin makan apa dan nabung berapa”

“Ya iyalah mas, dijamin makmur kalau itu! Jadi, jadi buka yang berapa mas?”

“Wah saya pikir-pikir dulu deh mbak”

Aduh, udah 45 menit dia di mejaku. Tadinya aku masih melihat harapan dia akan terpancing strategi pemasaranku. Sekarang tidak lagi.

“Mikir apa lagi toh mas?”

“Hehehe…ya udah deh mbak, saya pikir-pikir dulu ya, besok kalau mau buka kesini lagi”

“Baiklahhhhhhhhhhhhhhhhhhh…….”

Comments (2) »

Lalu…

Lalu kamu mundur sedikit. Mendekatkan punggungmu padaku. Kamu akan memelankan sedikit laju kita, dan menaruh tanganmu di lututku. Biasanya posisi ini hanya dilakukan untuk melemparkan komentar-komentar konyolmu atau usul-usul bodohmu padaku yang kau anggap agak budeg, sehingga membuatmu harus berada sedekat itu.

Lalu aku akan berkomentar seperti biasa,”Hah?Gak denger!”

Dan lalu kamu akan kembali ke posisi semula dan menyerah sambil geleng-geleng kepala. Laju kita semakin kencang. Sangat kencang. Kadang (bagiku) sudah terlalu kencang. Membuatku harus berpegang erat pada ujung bajumu.

“Mau makan apa?”, sumpah ya aku paling benci pertanyaan ini. Dimanapun aku berada dan bersama siapapun aku, pasti pertanyaan ini tidak pernah menjadi pertanyaan yang mudah untuk dijawab.

“Terserah”, aku yakin bahwa ini juga jawaban yang paling kamu benci.

“Yah mau yang kayak apa?”

“Apapun”

“Nggragas…”

Leave a comment »

Dunianya dan duniamu

Aku melihatnya menahan perih dijarinya.

“Kenapa?”

“Gak papa, lecet”

Sejak pembicaraan kami lima belas menit yang lalu, dia terus menekan jarinya ke lampit tempat kami duduk. Emosinya terlalu keluar saat ini, mungkin dia harus menahannya dengan menyakiti diri sendiri. Aku hanya memegang tangannya untuk meredakan semua, sambil bercanda tentunya.

“Udah dong, tapi mukanya jangan sedih gitu”

Dia tidak bereaksi selain senyum kecut seadanya.

Kami diam. Memandang sungai dan lampu-lampu kota dari atas sini. Mencoba mencari pembenaran atas keputusan-keputusan yang dirasa kurang tepat. Mencoba berdamai pada hidup masing-masing. Merenungi semua yang menjadi mimpi dan menerima yang menjadi kenyataan saat ini. Mengusir bosan dengan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak tahu apa.

“Kadang aku ingin kembali mencoba semuanya dan keluar dari kemapanan dan rutinitas, tapi aku takut umurku semakin tua dan aku belum dapat apa-apa”

“Hm, jawabanku akan terdengar sangat klise, totalitas”

“Totalitas gimana? Semua teman-temanku total, tapi yang sukses ya Cuma satu-dua, padahal ada seratusan yang total”

“Iyah, makanya aku bilang klise. Sebenarnya totalitas kita terus menjadi terhambat karena satu-dua orang itu. Karena kita udah terlalu takut menjadi total karena melihat kenyataan bahwa dunia hanya berpihak pada 2-3 persen orang yang total. Kita takut menjadi 98 persen sisanya. Ketakutan itu yang buat kita jadi gak total dan lagi-lagi, mengalah pada realitas”

“Nah itu dia!!”

Kembali diam.

“Hujan”, katanya ketika melihat rintik-rintik hujan jatuh diatas sungai.

“Kamu belum terlalu tua untuk memulai, apalagi aku lihat kamu berusaha memulai. Paling nggak, kamu gak cuman berencana”.

Usia kami memang tidak terpaut jauh. Hanya tiga tahun. Tapi yang kami hadapi di depan kami memang berbeda. Cukup berbeda. Mungkin itu yang membuatnya selalu mengeluarkan emosinya yang satu ini ketika bersamaku. Dan membuatku merasa tidak bisa berkontribusi apa-apa pada emosinya karena aku tidak berada dalam posisinya.

“Yuk, hujannya udah berhenti”

“Masih ah, tuh…”, kataku sok tau karena melihat air masih berkecipak.

“Itu ikan sayang……..”

“Oh, baiklah. Yuk!”

Malam itu, belum terlalu malam. Masih jam 11. Kami menyusuri jalan-jalan di kota metropolitan kedua setelah Jakarta ini. Ngebut. Yah, dia memang suka ngebut.

Lalalalalalalalalala…lalalalalalalala…now that I’ve lost everything to you…

“Halo?”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam ya habib! Sori baru ngangkat, barusan aja sampe kos”

“Walah kamu baru pulang jam segini tuh ngapain aja? Dugem?”

“Ya enggaklah, dugem mah jam segini baru berangkat. Hahaha…”

“Dasar kamu itu tetep aja”

“Enggaklah mas, aku tuh jadi anak baik-baik disini. Abis gak terfasilitasi. Hwehehe…yo opo ceritane pak? Kayaknya ada yang jadi workaholic nih”

“Enggaklah, aku baru pulang jam sembilan tadi. Yah gitulah, tar kalo aku cerita kamu iri”

“Please deh….aku udah gak ngiri ma Jakarta lagi”

Menerima telponmu selama satu jam membuatku kembali ke duniaku yang lain. Dunia dimana aku tidak mengenal dia. Dunia dimana aku berbagi tangis dan tawa denganmu dan dengan yang lain. Dunia dimana kita selalu memperdebatkan kebahagiaan. Dunia dimana kita sangat beruntung dan seringkali tidak mensyukuri itu.

Aneh rasanya sebuah dering telepon bisa membawamu ke dunia lain. Sepertinya, ketika berbicara dengannya aku speechless dengan segala emosinya. Lalu denganmu, aku terus menerus menertawakan kehidupan karena kita sudah lelah dengan perdebatan tentang menjadi bahagia.

Ah udahlah, apa itu bahagia juga aku tidak tahu. Apakah itu hanya persepsi manusia atau memang sesuatu yang eksis.

Belajar dari dunianya dan duniamu membuatku bisa membuat duniaku sendiri yang berwarna.

Leave a comment »

Ternyata rasanya biasa saja

Ternyata rasanya biasa saja. Tadinya aku pikir aku akan sangat kesepian. Ternyata rasanya biasa saja. Tadinya aku pikir aku akan merasa sangat kehilangan. Ternyata rasanya biasa saja. Tadinya aku pikir aku akan sangat sedih.

Tapi bukan berarti aku gak merasa sepi, kehilangan, ataupun sedih. Aku jelas merasa itu, tapi ya semua itu hanya dinamika perasaan yang selalu mengikuti kita. Sama seperti perasaan senang, suka, dan bahagia. Semuanya bagian dari hidup yang membuat kita merasa hidup. Susah memang memasuki dunia baru. Pasti rasanya taik banget waktu awalnya. Itu bagian dari proses, pelan-pelan kita akan mengikuti ritme-nya dan beradaptasi dengan keadaan.

Yah sekedar curhat sambil terus berusaha cope with everything…:)

Leave a comment »

Antara Jakarta-Jogja-Surabaya

Aku sudah membeli peta Surabaya. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk membekaliku ke tempat tinggal baruku esok Minggu. Yah, I’m moving to Surabaya, started on 5th Oct. Aku akan membangun hidup dari awal lagi. Di kota yang belum pernah aku kunjungi dan kota yang aku tidak punya sodara dekat yang tinggal disana.

Dulu sekali waktu lulus SMA aku pernah berkhayal tinggal di Surabaya, kuliah di Unair. Tapi ibuku dengan sigapnya menepis mimpiku…”Gak boleh kuliah keluar Jogja”, katanya.

Sekarang aku punya kesempatan itu, enam tahun setelah doaku itu. Hmpfhhh…

Leave a comment »

Dispenser

Aku sudah hidup bersamanya selama 8 bulan terakhir ini.

Sebelum ada dia, aku mengandalkan panci listrik untuk memasak air panas. Sekedar membuat teh, susu, bahkan memasak mi. Maklumlah, kamarku di lantai dua, malas terkadang untuk turun ke dapur bawah untuk sekedar memasak.

Lalu dia datang…

Ketika itu, hari ulangtahunku yang ke-dua puluh tiga. Jam lima pagi, pintu kamarku diketuk. Surprise!! Aku mendapati Heny, Suci, Santi, Intan, dan Annis di depan kamarku bersama sebuah kardus setinggi lututku dan di atas kardus itu ada lilin yang tidak akan mati meski ditiup berkali-kali. Bagian dari surprise tentunya.

“Maaf ya Vit gak sempet ngebungkus”

“Gak apa-apa, kataku girang”. Aku melihat merk SHARP disitu. Dari gamabrnya jelas itu adalah sebuah dispenser! Iya…aku sangat menginginkan sebuah dispenser!! Tentunya yang bisa untuk hot dan extra-hot seperti ini. Jadi gak perlu repot ke dapur untuk segala keperluan printilan.

“Makasih yaaaaaa”

Hidupku berubah sejak itu. Aku kembali kepada kebiasaanku di rumah dulu, minum teh setiap pagi, mengingat aku bisa dengan mudah membuat air panas, cukup tekan tombol power dan tunggu 5 menit.

Lau tiba-tiba di pagi hari itu aku mendapati kamarku sudah banjir…ternyata dia bocor…entah mengapa aku tak mengerti…

Aku mencoba mencari kartu garansi di laci. Ketemu!!! Syukurlah!! Lalu aku membacanya dengan teliti dan aku lemas melihat sebaris kalimat ini “Hanya berlaku apabila dikirimkan ke alamat berikut paling lambat 7 hari setelah tanggal pembelian”

Damn…aku baru tahu betapa pentingnya garansi…dan yang lebih penting adalah aku baru menyadari betapa pentingnya mengikuti prosedur…

“Sedia payung sebelum hujan” kata otang…

Comments (2) »

Deg-degan

Kata orang Jepang “Doki-doki”, itu untuk menggambarkan perasaan ketika jantungmu berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya. Bisa karena takut, karena excited, karena jatuh cinta, karena demam panggung, atau bahkan hanya karena berpapasan dengan seseorang.

Itu yang aku rasakan sore ini. Bukan karena jatuh cinta, bukan karena demam panggung, apalagi takut. Tapi karena aku bertemu dengan seseorang yang, percaya nggak percaya, entah kenapa membuat jantungku berdetak sangat kencang. Aku bahkan tidak mengenalnya sebelumnya. Melihat wajahnya pun tidak. Kalau teman-teman lelakiku bisa grogi di depan cewek cakep, si mas ini tidak cakep juga. Metroseksual juga enggak. Seksi juga enggak. Cerdas? Yah, dia terlihat cerdas dan manis. Terlihat baik-baik. Hmmm, sepertinya akhir-akhir ini seleraku jadi bergeser dari bad boy jadi good boy. Yah, tapi semanis-manisnya dia, secerdas-cerdasnya dia, bukan itu yang membuatku deg-degan. I don’t know…it’s just somehow, you felt it, out of nowhere…hmmm…interesting.

Secara wajar, ketika menemukan seseorang yang menarik, kamu akan memperhatikannya. Melihat setiap gerak-geriknya, mendengarkan setiap patah katanya, mengikuti setiap arah matanya. Itu juga yang aku lakukan, secara sadar maupun tak sadar. Aku pikir sangat mungkin kalau dia menyadari ini.

Dia yang tadinya sedang memberi coaching sebagai bagian dari On the Job Training tahap akhirku di ODP ini, malah kami buat bercerita tentang pengalamannya selama ini. Maksudku pengalaman bekerja tentunya.

“Iyah, enak anak-anak buahku dulu, aku cuman bilang ke temenku kalau MERTUAku mau datang, besoknya udah ada yang ngejemput di bandara. Padahal aku gak nyuruh apa-apa.”

Ok…rewind…bltbltlbllllttttt….MERTUA…yak…berhenti di kata itu. MERTUA. Cari di kamus…searching…oh ini dia artinya. Mertua=orang tua dari istri atau suami. Wait…ISTRI???? Damn!!!

Honestly, aku memang suka Richard Gere, tapi bukan berarti seleraku om-om. Dan dia sama sekali tidak terlihat om-om. Dia terlihat berusia 27 tahunan, dan dia tidak memakai cincin kawin di sepuluh jari tangannya. Jadi bukan salahku dong, kalau aku masih menganggapnya single pada awalnya tadi.

Damn…udah terlanjur deg-degan…but yeah, he’s still charming anyway…:(

Comments (2) »