Aku pernah liat dan dengar cerita itu. Cerita kalau lelaki harus melindungi keluarganya. Menjadi kepala keluarga. Memberi teladan dan menjadi panutan bagi istri. Bertanggung jawab atas keluarganya. Setia pada istrinya. Dan segudang yang baik-baik.Tapi aku juga sering liat dan dengar yang sebaliknya. Ayah yang kehilangan wibawa didepan anak-anaknya. Istri yang sangat setia meski suaminya entah sedang “bermain” dengan siapa. Suami yang dengan jujur mengaku “Iya, aku selingkuh”. Lelaki yang sudah beristri mengaku jatuh cinta lagi pada seorang gadis.
Bukan, itu bukan cuma sekedar cerita sinetron. Bukan hanya skenario Hollywood punya. BUkan cerita yang kita baca di tabloid-tabloid. Itu semua benar-benar terjadi di sekitar kita, kadang bahkan orang terdekat kita. Tapi dibalik realita yang sangat amat tidak manusiawi itu, aku masih melihat harapan. (ceile…)
Sebut saja namanya Oli. Seorang suami beranak dua, berusia 40-an akhir dan seorang yang sangat sukes di karirnya. Malah sudah menjadi bos sebuah perusahaan besar yang dikenal seluruh bangsa, malah internasional mungkin. Suatu hari si Oli ini mengajakku makan siang. Karena rasa kagum dan hormatku (orang sehebat dia gitu lo) dan keinginan menimba ilmu darinya, akupun mengiyakan. Masak kesempatan mengenal orang seterkenal dia aku lewatkan sih?
Siang itu, makanlah kami di sebuah restoran yang terkenal enaknya, jelas dia yang bayarin dong ya. Dia mengenalkan aku pada teman-temannya yang banyak dia temui di restoran itu. Akupun kebetulan kenal dengan si ibu pemilik restoran. Suasananya cukup menyenangkan. Kami sempat terlibat pembicaraan sedikit dengan seorang temannya yang punya pengalaman sama dengan kami. (Gak penting untuk dijelaskan apakah pengalaman tersebut)
Lalu , si wanita paruh baya tersebut pamit dan kami mengobrol lagi berdua. Setelah pembicaraan tentang buku terbaru si Oli yang sudah terbit dan beberapa kisah didalamnya yang mungkin aku juga tahu. Lalu ke masalah Timorleste. Lalu tentang kisahnya selama Orde Baru dan keterlibatannya dalam peristiwa 1998 itu. Termasuk tentang pandangan internasional tentang Indonesia. Mengapa mereka hanya berbicara gak penting dengan orang Indonesia, bukannya mengajak orang Indonesia berdiskusi dan mengetahui apa sebenarnya pendapat mereka. (yah, dia memang orang yang cukup Indonesianis)
Waktu istirahat kami sudah hampir habis. Aku harus kembali dan dia juga tentunya, meski dia bos, dia gak mau seenaknya dengan memeperpanjang waktu istirahatnya sendiri. Jujur, I was amazed…aku melihat sosoknya sebagai another Richard Gere (perasaan semua orang tua kamu mirip2ini Richard Gere deh Vit!). Haha…well, selama pembicaraan dia beberapa kali menyinggung tentang istri dan anak-anaknya. Sebelum kami kembali ke rutinitas masing-masing, dia membuka dompetnya (oh yes!dia mau ngasih uang!) dan…
“Ini foto istri dan anak-anakku. Yang kedua ini lahir di Jakarta”
Entah ya ketika dia menunjukkan itu, ada suatu kekuatan yang membuatnya sangat antusias dan berbinar-binar, menunjukkan cintanya yang sangat amat pada seluruh keluarganya itu. Aku tahu, dari dua puluh lima tahun karirnya, dia tak lupa memasukkan peran istri dan anak-anaknya. Aku sungguh melihat seorang family man yang tulus dan terpancar kesetiaannya. Itu membuatku semakin kagum padanya. Kiranya, pekerjaan yang berat dan banyaknya cewek-cewek cantik diluar sana tidak lagi menggodanya yang hatinya sudah tertambat pada istrinya.
Yah, dia mempertahankan institusi pernikahannya bukan karena komitmen yang sudah terlanjur dia buat. Entah bagaimana caranya si Oli berhasil mencintai istri dan dua anaknya every single day. Dan bertahan di dalam pernikahan karena itu memang yang dia inginkan, bukan karena keinginan orang lain atau “terjebak” dalam komitmen.
Aku jadi teringat sebuah konsep “pernikahan” yang baru aku kenal 6 bulan lalu. Partnership. Semacam tinggal bersama dalam satu rumah tapi gak menikah. Seorang teman yang memilih konsep ini untuk hubungannya bilang kalo dengan begini dia gak perlu merasa terjebak dalam komitmen dan belajar mencintai karena memang dia cinta, bukan karena dia merasa harus mencinta. Meski gak nikah, mereka tetap punya anak dan punya hukum yang mengatur pembagian harta dan sebagainya kalo mereka harus berpisah. Yah setidaknya ini yang terjadi di Australi, pengetahuanku. The point is sebuah hubungan apapun namanya itu (pacaran, nikah, partner, tunangan, dsb) adalah suatu tanggung jawab. Keputusan yang benar bila didasari alasan yang salah dapat menjadi keputusan yang salah, begitupun sebaliknya. So, selamat menikah…(lho?!)