Aku meraih alarm di meja sebelah kiriku. waktu menunjukkan pukul 6.30. Asem! Jam biologisku tidak bekerja hari ini. Padahal biasanya aku selalu bangun jam 6, tidak lebih. Kalaupun aku tidur setelahnya, itu hanya tidur-tidur ayam. Betul, tanpa alarm-pun aku pasti akan bangun.
Mentari pagi menyeruak dari jendela yang memnag tidak tertutup korden sejak semalam. Membuatku mau tidak mau bangun meski dingin lebih menggodaku untuk tetap berada di balik selimut. Disorientasi pagi! Itu mungkin yang sedang aku rasakan…antara malas bangun tapi juga sudah tidak bisa tidur. Hrrr…
Mataku bergerak kesana kemari, menyapu seluruh penjuru kamar, mencari-cari apa yang bisa aku kerjakan sekarang. TV? Malas…Mandi? Lebih malas lagi…Teko listrik? Hmmm…secangkir teh mungkin baik untuk mengawali hari ini.
Aku bangkit dari atas kasur nan sangat empuk ini. Dua cangkir yang tertelungkup di atas cawan seperti menyuruhku mengisi mereka. Dua teh celup dan dua bungkus gula pasir sukses terdistribusi ke dalamnya. Tentu dengan air panas yang aku ambil dari air mineral botolan dan kupanaskan dengan teko itu.
Aku menoleh kearahnya. Masih belum bangun juga. Kupikir, secangkir teh di pagi hari akan membuatnya nyaman saat ini. Meskipun aku tahu, secangkir teh di pagi ini, dan mungkin puluhan lainnya di pagi berikutnya, tidaklah cukup untuk membuat kami mengerti, mengapa sekarang kami berada di sini. Mencoba memberontak dari semuanya. Keluarganya. Keluargaku. Pemberontakan yang aku yakin hanya sementara. Entah bagaimana tapi memberi banyak arti bagi kami. Bagaimana kami belajar berbagi lagi. Menjelajah rasa. Bagaimana kami saling bertoleransi atas keseharian dan kebiasaan kami. Kebersamaan memang kadang begitu menyenangkan, bahkan mungkin tidak tergantikan oleh sebuah komitmen sekalipun.
Aku tahu, secangkir teh di pagi hari ini, atau mungkin berpuluh-puluh cangkir di pagi berikutnya, tidak akan cukup untuk menggantikan bercangkir-cangkir kehidupan yang telah dia suguhkan kepadaku. Aku harap dia tahu, ini adalah representasi rasa terima kasihku yang tak akan pernah cukup, atas pemberontakan ini dan atas kebersamaan yang sungguh terlalu sebentar.