Archive for September, 2007

Nyekar

Pagi itu aku dibangunkan oleh dering handphone. Aku lihat nomornya, hmmm…nomor yang aku sangat kenal meski gak ada di phonebook.+6221468 sekian sekian. Dengan malas aku mengangkatnya.

“Halo Om”

“Yah mene kok isih turu. Neng omahe uwong meneh”

“Wong koncoku yo isih turu kok, kesele…mau lagi turu jam 6″

“Hah? Ngopo kowe turu jam 6?”, dengan nada yang mulai naik.

“Lho kan sahur njuk ngobrol tekan jam 6″, dengan nada yang mulai hrrr…

“Kowe kapan terakhir nyekar ke bapak karo eyang?”

“Setaun yang lalu”, jawabku tanpa dosa.

“Hah?! Setaun yang lalu? Kuwi jenenge keset ngerti ra? Disempetke ngono lho. Kowe ki mbok yo bla bla bla….”

Argh, pagi-pagi gini udah diomelin.

“Yooooo”

“Yo wis”. Klik.

Ketika telpon itu tertutup aku baru menyadari, kalau aku memang pemalas. Masak jarak Godean-Kotagede aku anggap terlalu jauh untuk mengunjungi makan ayah dan eyangku. Masak aku bilang gak ada waktu untuk sekedar meluangkan satu jam berdoa di pusara mereka. Masak aku selalu ada waktu untuk sekedar nongkrong di Kedai Kopi dan On Line selama 2 jam, sedangkan tidak untuk nyekar. Bayangkan. 1 tahun!!! Aku memang hugh…I don’t know what to say…

Dua hari kemudian aku dan ibuku ke makam yang berjarak 30 menit dengan motor itu. Karena bulan puasa, maka kami harus ke juru kunci untuk meminjam kunci makam. Sampai disana aku benar-benar merasa udah lama banget since my last visit. Semua sudah serba keramik, maksudku ruang depan tempat penerimaan tamu, kamar mandinya juga sudah modern, gak seperti dulu dimana kami harus menimba untuk sekedar cuci tangan dan kaki. Dan aku ga tau itu, padahal itu sudah ada disitu sejak….mungkin setahun lalu.

Aku selalu berdalih…”Aku juga mendoakan mereka setiap hari kok”. Tapi aku sendiri bahkan sangat sadar kalau itu hanya apologi-ku atas kemalasanku. Waktu aku sampai di epan nisan marmer itu, aku merasakan kerinduan yang tidak aku dapatkan ketika aku berdoa dibalik mukena-ku. Mungkin ini maksud Om-ku, agar aku selalu dekat dengan orang yang mencintaiku dan kucintai. Mungkin…

Leave a comment »

Haha hihi…

Hidup tidak selalu aku maknai dengan haha dan hihi. Tapi seperti itulah kelihatannya. Bagiku, kehilangan adalah hal yang biasa. Bukan sesuatu untuk diratapi tapi dimaknai. Bukan sesuatu untuk ditutupi tapi dibagi.

Hidup juga tidak selalu aku anggap mengalir. Karena, semua yang mengalir membutuhkan keputusan, kemana akan dialirkan. Semua yang diputuskan menimbulkan konsekuensi yang bukan untuk dihindari tapi dihadapi.

Ketidakhadiran seseorang bukan sesuatu yang besar, tapi berpengaruh. Berpuluh tahun tidak merasakannya pun sudah menjadi konsekuensi. Ketika yang terbiasa tidak ada menjadi ada, semua terasa asing. Ketika semua yang ada menjadi tidak ada pun akan terasa asing. Kemudian, keterasingan dan keintiman memiliki hubungan yang aneh. Merasa asing dalam keintiman dan merasa intim dalam keterasingan.

Mungkin aku memang tidak membutuhkan semua ini…

Leave a comment »