“Sejak umur 16 tahun aku sudah memutuskan, gak mau punya anak. Sejak umur 18 tahun aku sudah memutuskan untuk tidak menikah. Sampai sekarang umur 22 tahun aku juga tetep gak pengen tuh”, seorang teman yang merayakan malam Natal bersamaku itu menyeruput jus Jambunya.
Yah, selepas dari pemberkatan pertunangan seorang teman kami, pembicaraan akan tidak jauh-jauh dari seputar jatuh cinta dan pernikahan.
“Kalo aku sih gak pengen nikahnya atau tunangannya, cuma waktu liat mereka aku ngiri sama kejatuhcintaannya”, aku menyumbang suara.
“Wah berarti masih ada orang di dunia ini yang percaya cinta ya”, sambung teman di sebelahku.
Yah, usia kami bertiga sepantaran. Tapi adu argumen kami selalu menarik, mengingat uniknya pribadi kami masing-masing. Jujur, satu-satunya topik yang tidak pernah kami bicarakan hanyalah gosip artis. um…sebentar, pernah sih sekali, itupun hanya memberi kepanjangan lain dari BCL.
Malam itu, topik pun bergulir manis. Dari Habitus sampai bagaimana cara mendapatkan sponsor untuk konferensi di Quebec tahun depan. Dan topik cinta lagi-lagi masih menyembul diantaranya.
Hmmm…sebentar lagi tahun baru, dan aku belum terpikir satu resolusi-pun. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini resolusiku tidak tercapai karena aku keburu dikejar desakan ekonomi. Padahal dalam hidup ini yang bisa membuatmu hidup ya hanya harapan dan impian, salah satunya ya lewat resolusi-resolusi yang kita buat, tidak harus selalu di tahun baru, tapi aku masih percaya bahwa timing menentukan keberhasilan resolusi kita, dan aku masih memilih tahun baru sebagai timing itu.
Tahun lalu aku membuat resolusi bersama mereka, dan sepertinya tahun ini juga akan sama. Perempuan di sebelahku sedang memulai menjadi akademisi, yang di depanku masih sibuk dengan design-design yang harus dia segera selesaikan, dan aku sendiri sedang mulai mencoba bermain-main dengan uang.
Entahlan apa resolusi ini adalah perbaikan dari apa yang sedang kami jalani, atau malah membanting setir dari jalan yang sedang kami lalui. Masih ada enam hari untuk berpikir matang-matang.
“Aku setuju untuk punya partner in life, yang steady juga boleh, tapi tidak untuk menikah”, jus jambunya sudah hampir habis.
“Hahaha…aku sih gak kuatir tentang kapan aku akan menikah atau dengan siapa atau bahkan akankah aku menikah. Aku lebih takut kalau aku terjebak dalam pernikahan yang salah”
“Kalau kamu terus berpikir apakah dia benar orang yang akan kamu nikahi dan terus ragu, terus menerus mikir apakah nanti akan ada yang lebih baik, ya kamu gak akan pernah menikah. Yang penting sekarang kamu cinta apa enggak? Kamu gak akan tahu ke depan itu kayak apa, yang kamu tau tuh ya sekarang kamu cinta dia, ya udah just say yes then…”, dengan berapi-api teman di sebelahku mengeluarkan argumennya.
“Beruntunglah kita masih muda dan gak dibebani pikiran-pikiran semacam itu ya, hahaha…”, aku menanggapi.
Waktu memang akan bergulir cepat, tapi saat ini, nikmatilah setiap detik yang hidup suguhkan padamu. Termasuk kebebasanmu untuk memilih dan menentukan resolusi-resolusimu!