Entah kenapa si Taufik membiarkan kok itu masuk ke wilayahnya tanpa perlawanan sedikitpun. Peringkat tujuh dunia seperti tidak membantunya dalam menunjukkan pada Indonesia bahwa dia pantas berada di sepuluh besar peringkat dunia. Seperti biasa, tampangnya datar menghadapi permainan semi final yang sangat menentukan bagi Indonesia. Suara penggila bulutangkis yang memadati Senayan tidak juga membuat Topik bersemangat. Bahkan aku-pun jadi tidak bersemangat. Permainan ganda sebelum Taufik saja bisa bikin aku teriak-teriak. Eh, giliran melihat permainan Taufik, yang ada juga pengen baca koran.
Yang aku tau, dalam olah raga dan permainan, kalah itu biasa, menang alhamdulillah. Tapi yang aku juga tahu adalah bahwa ada yang lebih penting dari sekedar hasil. Yaitu USAHA!!!
Mungkin Taufik merasa sudah berusaha sangat keras. Mungkin hanya aku yang terlalu berharap lebih pada seorang Taufik Hidayat. Atau mungkin dia yang menyerah sebelum bertanding? Atau mungkin dia grogi diliatin mertuanya?
Ah….yah sudahlah usaha kita menguber-uber si Thomas sudah berhenti di tahun ini. Coba lagi tahun depan. Mungkin dalam waktu dua tahun itu sudah banyak bermunculan pemain bersemangat seperti tim Uber kita tahun ini. Atau mungkin lebih. Yah, no heart feeling ya, everybody….