Lalu kamu mundur sedikit. Mendekatkan punggungmu padaku. Kamu akan memelankan sedikit laju kita, dan menaruh tanganmu di lututku. Biasanya posisi ini hanya dilakukan untuk melemparkan komentar-komentar konyolmu atau usul-usul bodohmu padaku yang kau anggap agak budeg, sehingga membuatmu harus berada sedekat itu.
Lalu aku akan berkomentar seperti biasa,”Hah?Gak denger!”
Dan lalu kamu akan kembali ke posisi semula dan menyerah sambil geleng-geleng kepala. Laju kita semakin kencang. Sangat kencang. Kadang (bagiku) sudah terlalu kencang. Membuatku harus berpegang erat pada ujung bajumu.
“Mau makan apa?”, sumpah ya aku paling benci pertanyaan ini. Dimanapun aku berada dan bersama siapapun aku, pasti pertanyaan ini tidak pernah menjadi pertanyaan yang mudah untuk dijawab.
“Terserah”, aku yakin bahwa ini juga jawaban yang paling kamu benci.
“Yah mau yang kayak apa?”
“Apapun”
“Nggragas…”