“Kalau saya buka yang ini, saya dapet duitnya berapa mbak sepuluh tahun lagi?”
“Ya sepuluh juta sekian mas”
Sudah lima belas menit orang ini menanyakan hal yang sama berulang kali. Tapi aku tak kunjung melihatnya menulis aplikasi di atas meja. Tenggorokanku mulai kering.
“Tapi kalau saya nabung segini, saya makan apa dong mbak?”
“Kan dapet jatah dari mess?”, ujarku sok tau.
“Yah kalau baru pendidikan gini sih dapet jatah mbak, tapi nanti kalau udah penempatan ya pake uang sendiri. Sedih deh mbak, makanya jangan mau punya suami tentara”
“Lha, makanya mas, kalau cari istri juga yang kerja dong. Jadi kan bisa bantuin mas buka tabungan”
“Ah mbak, bisa aja promosinya”
“Ya iya dong mas, namanya juga usaha”
“Mbak, kalau saya buka yang ini, lima tahun lagi saya dapet uang berapa?”
“Enam jutaan mas”
“Yah gak cukup buat dong buat nikah”, ada ada saja alasan dia.
“Nikah kan murah mas, tinggal ke KUA bayar 5000 beres”
“Terus gak resepsi mbak?”
“Ya gak usahlah”, jawabku sekenanya.
“Trus apa kata komandanku nanti? Bisa-bisa aku dipukulin sebatalyon”
“Hehehehe….”
“Kalau jadi tentara belom nikah susah mbak, karirnya susah naik”
Apakah saat ini masih jaman pernikahan jadi komoditas pria untuk sekedar menaikkan karirnya? Sepertinya masih. Aku melirik tahun kelahirannya di aplikasi sebelumnya. 1980. He looks younger that that.
“Lho kok mikirnya gitu sih mas”
“Lho, beneran lho mbak. Nanti siapa yang mau ngurusin organisasi istri-istri tentara”
Hmpfh…
“Jadi kalau aku mau dapet seratus empat belas juta, aku harus setor berapa sebulan?”
Okay, ini pertanyaan yang kesekian ratus kalinya. Aku melihat dua rekan di sebelah kanan kiriku berganti nomor antrian sekian kali, dan aku masih saja bersama dia.
“Masak aku beli rumahnya sepuluh tahun lagi, trus kapan nikahnya, kalau istrinya kerja di bank, pasti saya gak pusing mikirin makan apa dan nabung berapa”
“Ya iyalah mas, dijamin makmur kalau itu! Jadi, jadi buka yang berapa mas?”
“Wah saya pikir-pikir dulu deh mbak”
Aduh, udah 45 menit dia di mejaku. Tadinya aku masih melihat harapan dia akan terpancing strategi pemasaranku. Sekarang tidak lagi.
“Mikir apa lagi toh mas?”
“Hehehe…ya udah deh mbak, saya pikir-pikir dulu ya, besok kalau mau buka kesini lagi”
“Baiklahhhhhhhhhhhhhhhhhhh…….”
bunga said,
November 15, 2008 @ 11:47 am
“Lha, makanya mas, kalau cari istri juga yang kerja dong. Jadi kan bisa bantuin mas buka tabungan”
besok dia akan datang vit: untuk melamarmu, perempuan yang bekerja, jadi bisa bantuin dia buka tabungan hahahaa….
nadya said,
November 22, 2008 @ 3:59 am
hahahah vit.. strategi pemasaran TRM mu belum joss. Adanya dia bakal melamar lo hahahaha.. Berarti strategi marketing diri sndiri yang berhasil..
Memang kita harus menempatkan kepentingan pribadi dibandingkan perusahaan yah heheheheh..