“Kamu gak lagi kenapa2 kan nga?”, iya dia selalu memanggilku singa, katanya rambutku mengembang seperti raja hutan.
“Kenapa2 banget”, malas aku menanggapi pesan singkatnya itu.
“Ih kok singanya galak gitu ih, nanti tukang becaknya ngambek lho”
“Terserah”
“Kamu lagi apa”
“Dibilangin lagi nangis juga, masih nanya!”
“Lho gara2 apa?”
“Tenang aja bukan gara2 kamu kok, simpati kamu masih belom nyala?”, yah dia pasti khawatir aku marah padanya.
“Masih
nga, kamu lagi apa”
“Auk ah!”
Lalu sebuah nomor telepon genggang Jakarta ber-provider sama denganku masuk ke Blackberry-ku.
“Selamat malam”
“Vit…”
“Lho nomor siapa ini?”
“Nomor ibuku, aku bajak aja, abis kamu nangis”
Berbahagialah dia yang menelponku malam itu, karena aku sungguh sedang seperti macan yang diajak berantem (he?perumpaan macam apa ini). Aku keluarkan semua kegelisahanku, aku umpat semua keadaan, dan tentunya dia hanya menjawab..”Sabar Vit, sabar..”
“Sabar sabar! Gampang buat kamu ngomong sabar!”
“Kalau aku bisa aku juga mau ada disana”
“Hhhhhhhh udah ah”, dan akupun menangis sesenggukan, meninggalkannya bingung sendiri di seberang telpon.
Dia tau, cara menenangkanku yang sedang mengamuk adalah diam. Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit. Lalu tawaku mengikik…
“Bodo banget ya aku pake nangis sampe kayak gitu”
Barulah seribu satu wejangan mengalir dari mulutnya. Aku yang mulai waras mendengarkan dan berkomentar..”Tumben omonganmu bener”
Itulah dia, yang tidak pernah bisa aku maknai kehadirannya, bahkan sampai saat ini.