Monthly Archives: July 2007

Secangkir teh di pagi hari

Aku meraih alarm di meja sebelah kiriku. waktu menunjukkan pukul 6.30. Asem! Jam biologisku tidak bekerja hari ini. Padahal biasanya aku selalu bangun jam 6, tidak lebih. Kalaupun aku tidur setelahnya, itu hanya tidur-tidur ayam. Betul, tanpa alarm-pun aku pasti akan bangun.

Mentari pagi menyeruak dari jendela yang memnag tidak tertutup korden sejak semalam. Membuatku mau tidak mau bangun meski dingin lebih menggodaku untuk tetap berada di balik selimut. Disorientasi pagi! Itu mungkin yang sedang aku rasakan…antara malas bangun tapi juga sudah tidak bisa tidur. Hrrr…

Mataku bergerak kesana kemari, menyapu seluruh penjuru kamar, mencari-cari apa yang bisa aku kerjakan sekarang. TV? Malas…Mandi? Lebih malas lagi…Teko listrik? Hmmm…secangkir teh mungkin baik untuk mengawali hari ini.

Aku bangkit dari atas kasur nan sangat empuk ini. Dua cangkir yang tertelungkup di atas cawan seperti menyuruhku mengisi mereka. Dua teh celup dan dua bungkus gula pasir sukses terdistribusi ke dalamnya. Tentu dengan air panas yang aku ambil dari air mineral botolan dan kupanaskan dengan teko itu.

Aku menoleh kearahnya. Masih belum bangun juga. Kupikir, secangkir teh di pagi hari akan membuatnya nyaman saat ini. Meskipun aku tahu, secangkir teh di pagi ini, dan mungkin puluhan lainnya di pagi berikutnya, tidaklah cukup untuk membuat kami mengerti, mengapa sekarang kami berada di sini. Mencoba memberontak dari semuanya. Keluarganya. Keluargaku. Pemberontakan yang aku yakin hanya sementara. Entah bagaimana tapi memberi banyak arti bagi kami. Bagaimana kami belajar berbagi lagi. Menjelajah rasa. Bagaimana kami saling bertoleransi atas keseharian dan kebiasaan kami. Kebersamaan memang kadang begitu menyenangkan, bahkan mungkin tidak tergantikan oleh sebuah komitmen sekalipun.

Aku tahu, secangkir teh di pagi hari ini, atau mungkin berpuluh-puluh cangkir di pagi berikutnya, tidak akan cukup untuk menggantikan bercangkir-cangkir kehidupan yang telah dia suguhkan kepadaku. Aku harap dia tahu, ini adalah representasi rasa terima kasihku yang tak akan pernah cukup, atas pemberontakan ini dan atas kebersamaan yang sungguh terlalu sebentar.


Dekat Pasar Kembang

Masih sama ketika dua tahun lalu aku meninggalkannya. Tidak banyak yang berubah di pasar pagi yang letaknya tak jauh dari Pasar Kembang (“pasar malam”). Aromanya masih sama….Jogja banget! Orang-orangnya juga sama, tidak banyak berubah, sebagian dari mereka tambah gemuk yang berarti tambah makmur hidupnya. Ramah…mereka masih menyapa “eh…mbak Vita” dan “Ibu kok dangu mboten ketingal” (yang terakhir ini sapaan untuk ibuku).

Masih bisa lihat ibu-ibu penjual jamu yang hobi pakai pilis di dahinya. Kata ibuku, deplokan ramuan tradisional itu bisa untuk menyegarkan mata. Harganya masih murah. Cabe seribu bisa dapat banyak sekali. Pasar ini benar-benar potret kehidupan Jawa. Meski letaknya di tengah kota (downtown) tapi tempat yang sudah aku kenal selama 15 tahun ini sangat beraroma Jawa…mungkin karena aku tumbuh bersamanya.

Baunya masih warung-warung kecil penjual barang sekaligus makanan. Di pojok masih ada warung es buah yang waktu kecil aku dilarang membelinya karena konon katanya airnya air mentah….haha….oh how I miss old time…


Why bother?

Sudah aku bilang berulangkali kalau aku sedang travelling alone! Alone! Sendiri! Dewekan! Opo maneh? Berarti aku sudah berniat untuk kemana-mana sendiri dan ngapa-ngapain sendiri. Melakukan apa yang kumau selama lima hari ini. Pergi kemanapun aku suka dan dengan siapapun yang aku suka. Berpikir dan memutuskan semuanya sendiri. Berusaha sendiri dan susah senang sendiri. Dan aku tidak cukup bodoh untuk melakukan semua ini tidak dengan persiapan. Ya! Tentu aku sudah mempersiapkan semuanya. Peta, baju, uang, pulsa dan kemungkinan tersesat dan who to contact in case anything happen to me.

Sudah aku katakan kalau aku kesini bukan untuk siapapun, bukan untuk kamu, bukan untuk dia, bukan untuk mereka, bukan untuk apa juga, Aku kesini untuk diriku sendiri. Untuk aku mengenal semua yang ada disini. Salah satunya kamu. Salah satunya dia. Salah satunya mereka. Salah satunya apa. Tapi kenapa kamu memaksakan harus kamu? Harus dia? Atau harus siapapun dan apapun? It doesn’t work that way okay? My life isn’t in your hand nor anyone. Jangan beri aku rasa gak enak itu dan membuatku harus membuat keputusan karena aku merasa gak enak bukan karena aku memang ingin.

Rasa kamu memang besar. Kamu memang hebat merancang semuanya. Tapi kamu gak tau apakah sebenarnya yang kamu rancang itu sesuai dengan keinginanku atau enggak. KAmu memang baik. Kamu berpikir untuk orang lain. Kamu tidak ingin orang lain kesusahan dan terjebak. Tapi bisa kan biarkan orang lain itu yang menentukan jalannya sendiri dari kesusahan yang mereka alami. Pepatah bilang “orang yang paling bodoh adalah orang yang belajar dari pengalaman orang lain”. Tapi buat kamu itu tidak pernah akan ada artinya. Karena kamu merasa bertanggung jawab atas orang lain. Maaf, kali ini aku sedang tidak ingin dilindungi atau dikasihani. Apalagi dijadikan objek dari ambisimu itu!

Ijinkan aku sekedar bermain-main dengan hidupku, mengambil resiko dan jatuh bangun. Mencicipi ini itu dan memilih mana yang aku suka. Aku cuma ingin satu, kamu adalah inner circle-ku, bagaimanapun aku peduli denganmu. Aku ingin sekali-kali kau dengarkanlah apa kata orang, jangan terus mengkambinghitamkan orang lain dan merasa dirimu selalu benar. Jiwa altruismu itu adalah aset besar, tapi jangan jadikan itu bumerang. Jangan sampai rasa pedulimu pada orang lain malah membuatmu campur tangan dengan urusan orang.


Aku melihat Monas dari jendela

“Lho ikut aja Vit, bentar aja kok. Di deket sini ada resto bebek yang enak banget”

“Aku kenyang banget kok, mau tidur aja deh cape…hehe”

“Alah bentar doang kok, ayok!”

“Um, ya udah deh…”, toh masih jam 8 masih terlalu sore untuk tidur. Lagipula gak enak ma temenku, udah diajakin jalan-jalan kok malah milih tidur. Walhasil, HP dan uang ketinggalan semua. Cuman bercelana pendek, kaos dan sendal jepit buluk.

“Ke Kelapa Gading aja kali ya muter-muternya, biar gak macet. Atau kamu mau kemana?”

“Oooh yang ada tugu Sumarecon itu ya. Boleh deh, aku belom sempet ke mall Kelapa Gading kok”, aku harap jalan-jalan spontan di malam terakhirku sebelum aku kembali ke Jogja ini bisa mengobati kecewaku karena gak jadi dugem. Semoga…

Sungguh aku kecewa banget ketika gak jadi jalan di malam ini. Masak aku harus menghabiskannya dengan nonton Indonesia vs Arab Saudi itupun lewat TV. Masak aku cuman nonton Extravaganza yang bisa juga aku tonton dari rumah. Sial! Sekali lagi aku berharap ini bisa jadi obat. Dan aku masih berharap ada sms yang mengajakku pergi ke tempat yang “memang aku inginkan untuk kuhabiskan malam ini” (disingkat MAIUKMI)

Aku menikmati malam ini bersama dua temanku dari dalam mobil ini. Tapi sesuatu mengatakan aku harus segera mengecek HPku karena akan ada sesuatu yang membawaku ke MAIUKMI itu. Aku mulai gelisah. Dan dunia seakan tahu itu. Lagu yang aku dengar dari radio di mobil ini, sama persis dengan lagu yang aku dengar di malam terakhir 7 bulan lalu. Nama jalan yang aku lewati sama dengan nama tempat tinggal si empunya MAIUKMI itu. Entahlah….apakah ini memang benar atau ini hanya perasaanku yang memang ingin ke tempat dimana aku bisa melihat Monas dengan jelas dan lampu-lampu kota yang seperti kunang-kunang menjelang tidur. Ah tapi toh ini sudah terlalu malam, jam 10 malam di ibukota tidak sama dengan jam 10 malam di Jogja dimana aku bisa berkeliaran dengan seenakku. Disini semua serba…berbahaya…mungkin.

Tepat jam 10 aku sampai ke kamar temanku tadi. Tempat aku menonton Extravaganza yang mulai menyedihkan itu. Dan aku melihat HPku…4 messages received!!

Gosh! It’s gotta be something about MAIUKMI!!

Iya, mungkin memang ketika kamu menginginkan sesuatu dan meyakininya, seluruh dunia akan mendukungmu. Benar! Aku harus berada di MAIUKMI malam ini, tempat yang sangat aku inginkan untuk berada malam ini. Tidak hanya karena Monas dari jendela kamar, tidak hanya kunang-kunang itu, tapi hanya sekedar untuk menghabiskan waktu denganmu…


Baby dan Weekend

“Coba tebak harga stroller paling mahal seJogja!”

“Enggak tau”

“Tebak Vit!”

“um, ok…4 juta!!”

Hahahaha….tawa Bunga dan Afifa meledak di salah satu resto di Amplaz (a.k.a Ambarukmo Plaza)

“8 juta!!”

Gila…emang ga ada yang lebih murah apa? Setelah dicari-cari dari toko bayi satu ke toko bayi lain, ya kira-kira segitulah harganya (begitulah kesimpulan awal kami). Bunga memutuskan kita coba ke C********, who knows ada yang affordable. Berdasar pengamatan emang ada yang murah sih, tapi gak yakin kualitasnya.

Harga Special Rp. 499.000

Bayangkan reaksi kami yang bungah dengan harga yang jauh dibawah sejuta itu. Atau gak usah dibayangin aja ding, terlalu norak…

“Mbak, mau liat yang itu….”

Mbak-mbak penjaga toko langsung sigap melihat tiga dara manis kesetanan karena ngeliat kereta dorong bayi. Dia pun menurunkan stroller dari rak dan memeragakan sejuta pertunjukan untuk meyakinkan kami agar membelinya.

“Ini bisa jadi kuda-kudaan lho mbak”, sang pramuniaga nampak tersenyum melihat kami kaget bahwa sebuah kereta bisa berubah jadi kuda lumping.

“Wah gimana caranya mbak???”, kami spontan tereak dan norak lagi…

Dengan sigap sang mbak menunjukkan langkah satu dua tiga, roda ditekuk, besi berayun alias mirip kursi goyang dan sim salabim…”Nah selesai mbak!”

Lhooooo???!!! Mana kudanya???

“Nih mbak kalo bayinya mau tidur tinggal digoyang-goyang gini…”

Oh okay, ternyata kuda-kudan bukan hanya berarti kuda lumping tapi juga bisa berarti kursi atau tempat tidur goyang. Kamipun kecewa…”Makasih ya mbak, liat-liat dulu ya”, kami melangkah gontai ke luar supermarket.

“Ah….udah gitu besinya gak rapi, takutnya nyocok si Rere lagi!”, kami memberi apologi-apologi atas kegagalan kami mendapatkan stroller!

“Coba cari di W***** aja, kayaknya murah-murah”, entah usul Afifa atau Bunga, yang pasti bukan aku.

Lalu, Bunga dan Afifa naik mobil si BUngbung ke W***** dan aku naik motor sendiri. Sampai di W***** aku sudah menemukan dua makhluk itu milih-milih stroller.

“Ada yang bagus?”

Ketika mereka menoleh ke arahku aku melihat cahaya dan senyum mengembang…”Murah dan bagus-bagus!!”

Ternyata harga jutaan itu hanya pilihan, buktinya ada juga kok yang harganya sepertiga dari satu juta rupiah. Dan bagus pula dan yang pasti bisa dibuat KUDA-KUDAAN!!

Wewwwww…kami keluar toko dengan satu stroller dan satu set tas dan carryness…dan yang pasti bahagia karena berhasil memanage uang dari si bos Lili dengan cermat. Uyikk…here we come, happy Bday, though today’s ur birthday, but ur baby who will get presents from her aunty(Lili), and the other auntys(VitaBungaAfifa) will give you our best prayer….hehehe…dasar gak modal!


Angel and Demon

This is the last time
That I’m ever gonna come here tonight
This is the last time I will fall
Into a place that fails us all inside
And I can see the pain in you
And I can see the love in you
And fighting all the demons will take time
Will take time

Lima hari lalu aku sedang bingung. Tiba-tiba karena “Lucky Bitch”, aku bertemu kamu. Lagi…Hari itu sudah terlalu malam dan aku hanya ingin tidur. Tapi kamu membuatku tidak tidur semalaman karena kabar berita yang kamu bawa. Iya, after all this year yang aku berjuang mati-matian sendiri, kamu akan datang dan menguji hasil perjuanganku itu. Kamu yang tidak pernah aku harapkan untuk datang dan menilai semuanya. Yang sudah seharusnya aku hapus dari daftar “juri kehidupan”-ku.

Ya, aku memang berhak untuk berkata tidak. Berhak untuk mengatakan “Enggak, aku gak mau menguji diriku sendiri”. Menghindar dari segala kemungkinan kegagalan yang sangat mungkin aku hadapi setelah  beberapa bulan ini aku berhasil. Lari dari ketakutanku sendiri. Tapi so what?

The angels they burn inside for us
And are we ever
Are we ever gonna learn to fly
The devils they burn inside of us
And are we ever gonna come back down
Come around
I’m always gonna worry about the things that could make us cold

Terus apa kalo aku berhasil lari? Itu bukan prestasi yang patut dibanggakan. AKu baru bisa bangga setelah aku datang dan membiarkanmu menjadi assesor-ku. Membuatmu mengelupasiku dan melihat “keberhasilan”ku. Tapi, bagaimana kalo semua itu tidak se-worth-it yang aku bayangkan. Bagaimana kalo hal yang menurutku besar ini, adalah hal yang sebenarnya kecil dimatamu. I know…I’ll never find the answer if I stop here…

This is the last time
That I’m ever gonna give in tonight
Are there angels or devils crawling here?
I just want to know what blurs and what is clear to see

Apapun keputusanku akan menjadi tanggung jawabku, meskipun keputusan yang aku ambil berdasarkan saran orang lain. Sebingung apapun aku, aku adalah manusia independen yang tidak bergantung pada siapapun. AKu harus memutuskan sendiri wheter I’ll go or not!

Well I can see the pain in you
And I can see the love in you
And fighting all the demons will take time
It will take time

Mungkin aku tidak akan lari atau mungkin aku lari. Apapun itu, yang aku putuskan adalah apa yang aku yakini benar. Aku memang terlalu percaya diri, bahkan untuk mengambil keputusan sperti ini, aku masih dengan lancang berkata “I know what I want”. Aku tidak akan menyerah oleh ketakutanku sendiri…(lagi)…

And if I were to give in
I’d give it up and then
Take a breath, make it deep
‘Cause it might be the last one you get
Be the last one that could make us cold
Could make us cold
I’m always gonna worry about the things that could make us cold

song by Dishwalla