Monthly Archives: December 2007

Our Christmas Night

“Sejak umur 16 tahun aku sudah memutuskan, gak mau punya anak. Sejak umur 18 tahun aku sudah memutuskan untuk tidak menikah. Sampai sekarang umur 22 tahun aku juga tetep gak pengen tuh”, seorang teman yang merayakan malam Natal bersamaku itu menyeruput jus Jambunya.

Yah, selepas dari pemberkatan pertunangan seorang teman kami, pembicaraan akan tidak jauh-jauh dari seputar jatuh cinta dan pernikahan.

“Kalo aku sih gak pengen nikahnya atau tunangannya, cuma waktu liat mereka aku ngiri sama kejatuhcintaannya”, aku menyumbang suara.

“Wah berarti masih ada orang di dunia ini yang percaya cinta ya”, sambung teman di sebelahku.

Yah, usia kami bertiga sepantaran. Tapi adu argumen kami selalu menarik, mengingat uniknya pribadi kami masing-masing. Jujur, satu-satunya topik yang tidak pernah kami bicarakan hanyalah gosip artis. um…sebentar, pernah sih sekali, itupun hanya memberi kepanjangan lain dari BCL.

Malam itu, topik pun bergulir manis. Dari Habitus sampai bagaimana cara mendapatkan sponsor untuk konferensi di Quebec tahun depan. Dan topik cinta lagi-lagi masih menyembul diantaranya.

Hmmm…sebentar lagi tahun baru, dan aku belum terpikir satu resolusi-pun. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini resolusiku tidak tercapai karena aku keburu dikejar desakan ekonomi. Padahal dalam hidup ini yang bisa membuatmu hidup ya hanya harapan dan impian, salah satunya ya lewat resolusi-resolusi yang kita buat, tidak harus selalu di tahun baru, tapi aku masih percaya bahwa timing menentukan keberhasilan resolusi kita, dan aku masih memilih tahun baru sebagai timing itu.

Tahun lalu aku membuat resolusi bersama mereka, dan sepertinya tahun ini juga akan sama. Perempuan di sebelahku sedang memulai menjadi akademisi, yang di depanku masih sibuk dengan design-design yang harus dia segera selesaikan, dan aku sendiri sedang mulai mencoba bermain-main dengan uang.

Entahlan apa resolusi ini adalah perbaikan dari apa yang sedang kami jalani, atau malah membanting setir dari jalan yang sedang kami lalui. Masih ada enam hari untuk berpikir matang-matang.

“Aku setuju untuk punya partner in life, yang steady juga boleh, tapi tidak untuk menikah”, jus jambunya sudah hampir habis.

“Hahaha…aku sih gak kuatir tentang kapan aku akan menikah atau dengan siapa atau bahkan akankah aku menikah. Aku lebih takut kalau aku terjebak dalam pernikahan yang salah”

“Kalau kamu terus berpikir apakah dia benar orang yang akan kamu nikahi dan terus ragu, terus menerus mikir apakah nanti akan ada yang lebih baik, ya kamu gak akan pernah menikah. Yang penting sekarang kamu cinta apa enggak? Kamu gak akan tahu ke depan itu kayak apa, yang kamu tau tuh ya sekarang kamu cinta dia, ya udah just say yes then…”, dengan berapi-api teman di sebelahku mengeluarkan argumennya.

“Beruntunglah kita masih muda dan gak dibebani pikiran-pikiran semacam itu ya, hahaha…”, aku menanggapi.

Waktu memang akan bergulir cepat, tapi saat ini, nikmatilah setiap detik yang hidup suguhkan padamu. Termasuk kebebasanmu untuk memilih dan menentukan resolusi-resolusimu!

Advertisements

Sebuah percakapan di restoran Korea

“Kamu percaya Tuhan gak?”, entah mengapa tiba-tiba aku ingin menanyakan ini padanya.

“Enggak”, jawabnya cepat dan yakin.

Mataku menatap semakin tajam ke arahnya. “Kenapa?”

“Aku percaya kalo yang terjadi padaku adalah hasil dari pikiran dan instingku”, kali ini dia menjawab sambil menunjuk-nunjuk pelipisnya (pikiran) dan dadanya (insting).

“Hmmm menarik. Jadi kamu atheis atau semacam agnostik?”

“Bukan dua-duanya. Agnostik percaya adanya Tuhan hanya tidak melihat agama sebagai jalan keluar. Kalo dibilang atheis tidak juga. Mungkin aku lebih bisa disebut sebagai penganut Existentialism”.

“Apa itu?”

“Yah semacam kepercayaan bahwa aku ada karena aku. Aku juga masih banyak belajar tentang ini”, dan dia mulai menjelaskan panjang lebar tentang keyakinannya itu.

“Apakah kamu gak pernah dalam keadaan stuck dimana kamu udah ga bisa ngapa-ngapain lagi tapi lalu tiba-tiba ada “tangan-tangan ajaib”?”

Karena dari sudut pikiranku keluar ingatan tentang seorang teman yang mengaku tidak percaya Tuhan tapi ketika dia terbebas dari ancaman drop out, seketika itu juga dia langsung solat.

“Enggak. Kalo aku sedang stuck ya aku akan duduk dan menyendiri. Mulai berpikir ulang dan merasionalisasi segala sesuatunya dan pada akhirnya mendapat jalan keluarnya”.

“Jadi kamu juga gak percaya bahwa ada kekuatan yang lebih hebat daripada kekuatan manusia meski bukan Tuhan?”

“Tidak. Menurutku kekuatan paling hebat ya hanya milik manusia.”

“Hmmm menarik. Darimana kamu dapat doktrin semacam ini?”

“Aku gak dapet ini tiba-tiba ya. Aku belajar dari pengalaman-pengalamanku, dari perenungan-perenunganku. Dari buku-buku yang aku baca juga.”

“Jadi sewaktu sekolah kamu belajar agama, apa yang ada di benakmu? Apakah menurutmu itu tidak lebih dari sekedar pelajaran sejarah?”

“Ya aku belajar cuma agar bisa dapet nilai bagus, aku tidak pernah benar-benar mempelajarinya. Ohya, kalau bisa membuatmu lebih jelas, mungkin lebih mudah kalau aku memakai istilah komunisme. Ya aku seorang komunis”

“Hahaha…yah aku juga gak tau bedanya kok. Tapi aku ngerti maksudmu”, sahutku sambil tertawa terbahak-bahak.

“Vita, kamu udah solat?”, tegurnya.

“Yah ini aku baru mau solat”

“Ya sudah solat sana. Tunggu apa lagi sih”

Dan akupun mengambil air wudhu.