Monthly Archives: May 2008

ngUBER-uber THOMAS

Entah kenapa si Taufik membiarkan kok itu masuk ke wilayahnya tanpa perlawanan sedikitpun. Peringkat tujuh dunia seperti tidak membantunya dalam menunjukkan pada Indonesia bahwa dia pantas berada di sepuluh besar peringkat dunia. Seperti biasa, tampangnya datar menghadapi permainan semi final yang sangat menentukan bagi Indonesia. Suara penggila bulutangkis yang memadati Senayan tidak juga membuat Topik bersemangat. Bahkan aku-pun jadi tidak bersemangat. Permainan ganda sebelum Taufik saja bisa bikin aku teriak-teriak. Eh, giliran melihat permainan Taufik, yang ada juga pengen baca koran.

Yang aku tau, dalam olah raga dan permainan, kalah itu biasa, menang alhamdulillah. Tapi yang aku juga tahu adalah bahwa ada yang lebih penting dari sekedar hasil. Yaitu USAHA!!!

Mungkin Taufik merasa sudah berusaha sangat keras. Mungkin hanya aku yang terlalu berharap lebih pada seorang Taufik Hidayat. Atau mungkin dia yang menyerah sebelum bertanding? Atau mungkin dia grogi diliatin mertuanya?

Ah….yah sudahlah usaha kita menguber-uber si Thomas sudah berhenti di tahun ini. Coba lagi tahun depan. Mungkin dalam waktu dua tahun itu sudah banyak bermunculan pemain bersemangat seperti tim Uber kita tahun ini. Atau mungkin lebih. Yah, no heart feeling ya, everybody….


Pengenbangetbisadibagianini

Bukan masalah keinginan. Karena aku sangat ingin. Ini masalah kemampuan. Kemampuan IQ terutama. Yah aku tahu, effortnya harus super duper ekstra keras. Doanya harus bloody kuat. Nah, sekarang, apakah aku sudah cukup berusaha? Apakah aku sudah cukup berdoa?

Yah entahlah, aku hanya sedang berusaha…Dukung Vita!!! Semangat!!!


Dare or dare?

He came slowly to me, step by step and that makes me laugh even more…

Today, like the other day that me and my friends had, we had small chat to kill the time. Then suddenly, he came and give me more than just a small chat. It’s a dare!

“I dare you!”

“What’s the bet?”, I asked him.

“Our favorite restaurant, all you can eat”.

“No way…that’s too cheap!”

“Hahaha…I just don’t want to make you broke!”

“I warn you not to underestimate me. Are you scared? Coz you’ll be the one who will have to spend a lot of money!”

“Deal, you just have to prepare your money to spent on me”

“Yeah right!”

We then agreed to do the dare in the place where we consider it as a safe and, at the same time, the most challenging place.

“Whoever quit before the battle, should treat the winner. And whoever quit first in the middle of the battle, should treat the winner too, all you can eat!”

“Deal!”

After all of our conversations, he seemed to doubt me, then he started to write in a piece of paper and gave it to me. It says…

Just for your information, I’ll give you SWOT analysis about me…:
1. I’m a well trained
2. Again…well trained

I laughed a little and replied:

Haha…not scared! Me:
1. Quite well trained
2. Not gonna give up!

Are you sure you’re ready?

Well, can’t wait!

We kept on arguing, we think that as the most effective warming up before the battle.

In the afternoon, the time had come. The whole universe seemed to support our plan, but a glimpse of doubt cross my head saying that he’ll quit. But then he came after me…”Just call me when you’re ready!”

“Oooo….I’m very ready!”

I followed him and put our bags. I followed him again, now to the “place”.

There we were and I can’t stop laughing to see his face…He kept on standing there and ask me to tell him whenever I’m ready. I still couldn’t stop laughing.

“Okay, I’m ready!”, this time no more laughter.

“Sure”

“Yeah, let’s just do it”

And the battle begin…1 second, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15…then…we heard footsteps…and so, we stopped and ran…


Aku pingsan

Aku pingsan. Ya, aku pingsan di hari Senin itu. Aku berenang, sauna, tidak makan tidak minum, dilanjutkan berendam air panas, dan kemudian aku pingsan.

“Guys…aku mau pingsan…”, teriakku dari kamar mandi, tentunya ditujukan kepada Alif, Zelda, Nadya, dan Dwi yang sedang berada kamarku dan Zelda, kamar 541.

“Hahaha…awakmu isih wudo to Vit?”, Alif dengan bercanda menanggapiku.

“Guys, beneran aku mau pingsan”, dengan segera aku yang hanya berbalut handuk membuka pintu kamar mandi. Dan tiba-tiba semuanya gelap.

Ya, semuanya gelap seiring aku mendengar Alif berlari dan bersumpah serapah…”Ancuk, aku tak metu disik cuk”.