Monthly Archives: July 2008

Dia menangis lagi

Dia menangis lagi. Ini sudah kedua kalinya dia menangis karenaku. Pertama karena aku bisik-bisik di depannya, dia pikir aku sedang membicarkannya. Percaya atau tidak, saat itu aku sedang membicarakan cowok cakep yang duduk di sebelahku. Kedua, ya sekarang ini. Kata temanku, dasar dianya yang terlalu sensitif. Kata dia dasar akunya yang terlalu kejam. Kataku sih, aku cukup sadis dan dia terlalu sensitif.

“Aku tuh gak pernah lho sok-sok proaktif kayak gitu”, katanya.

“Ah masak sih, bukannya kamu yang semangat waktu minta studi kasus”, kata temanku.

“Iya, besok lagi, biasa aja ya, gak usah sok proaktif”, kata temanku yang lain lagi.

Berita yang menyebar memang si dia terlalu proaktif, sampai-sampai meminta studi kasus kepada mentor kami, padahal seharusnya kami memang tidak perlu studi kasus. Yah, kan jadi nambah-nambahin kerjaan. Tapi menurut dia, dia tidak pernah sok proaktif seperti itu. Well, only God knows…

Aku sebenarnya tidak terlibat dalam perdebatan tiga orang temanku itu. Tapi dasar jahil, aku yang memang merasa perdebatan mulai menjadi debat kusir, dengan entengnya sambil membaca koran dan tidak melihat sedikitpun ke arahnya menimpali…”Ya udah to, gak usah pake berantem, yang penting besok gak diulangi”, perlu kutegaskan kalau aku mengatakan ini tanpa menoleh sedikitpun kearahnya, red-bisa diasumsikan sebagai berdarah dingin atau bisa juga diasumsikan sebagai orang asal ngomong gak penting. Nah, sepertinya asumsi pertamalah yang dia pakai untuk mencerna omonganku itu.

Diapun seketika pergi dengan wajah cemberut. Aku masih membaca koran…”Lho, gara-gara aku lagi ya?”, dan semua terdiam. Suasana yang seharusnya bercanda menjadi seketika dingin. Aku cuma cengar-cangir.

“Hayo lo Vit, ngambek dia”

Celaka. Ibaratnya, kedua temanku punya rencana menembak sasaran. Teman yang satu membeli pistol, yang lainnya membeli peluru. Kebetulan aku lewat dan menarik pelatuknya. Bam!

Yah, aku harus melakukan ritual ini tiap kali aku membuatnya menangis. Meminta maaf dan menjelaskan bahwa aku tidak bermaksud apa-apa. Kemudian dia akan menangis dan mengatakan bahwa dia tidak suka aku melakukan itu. Dan aku akan tetap meminta maaf. Dan dia lagi-lagi akan menjawab dengan. “Aku gak suka, aku tuh gak jahat sama kamu, kok kamu tega sih sama aku”. Dan masih banyak lagi kata-katanya yang aku lupa.

Kalau melihat aku sedang mengemis maaf seperti ini, pasti teman-temanku yang lain akan tertawa cekikikan, seakan mengatakan…”Apes banget sih Vit”. Mungkin memang nasib apesku.

Aku tidak merasa bersalah atas apa yang aku katakan padanya. Tapi aku merasa bersalah karena telah membuatnya menangis. Aku tidak pernah bermaksud menyakitinya. Tapi sepertinya mulutku ini suka terlalu senang ngerjain orang. Aku tidak merasa bersalah karena mengatakan itu padanya, karena aku juga mengatakan itu pada orang lain dan mereka baik-baik saja.

Tapi sepertinya ada sudut pandang lain di dunia ini yang harus aku coba. Sudut pandang orang-orang seperti temanku itu, ya si dia itu. Sudut pandang yang cukup berbeda dari sudut pandang yang sedang aku pakai. Ibuku juga selalu mengatakan, meminta maaf itu bukan hanya ketika kita bersalah, tapi juga untuk memperbaiki keadaan. Paling tidak meminta maaf karena telah membuat keadaan diantara kita tidak enak.