Monthly Archives: August 2008

Dispenser

Aku sudah hidup bersamanya selama 8 bulan terakhir ini.

Sebelum ada dia, aku mengandalkan panci listrik untuk memasak air panas. Sekedar membuat teh, susu, bahkan memasak mi. Maklumlah, kamarku di lantai dua, malas terkadang untuk turun ke dapur bawah untuk sekedar memasak.

Lalu dia datang…

Ketika itu, hari ulangtahunku yang ke-dua puluh tiga. Jam lima pagi, pintu kamarku diketuk. Surprise!! Aku mendapati Heny, Suci, Santi, Intan, dan Annis di depan kamarku bersama sebuah kardus setinggi lututku dan di atas kardus itu ada lilin yang tidak akan mati meski ditiup berkali-kali. Bagian dari surprise tentunya.

“Maaf ya Vit gak sempet ngebungkus”

“Gak apa-apa, kataku girang”. Aku melihat merk SHARP disitu. Dari gamabrnya jelas itu adalah sebuah dispenser! Iya…aku sangat menginginkan sebuah dispenser!! Tentunya yang bisa untuk hot dan extra-hot seperti ini. Jadi gak perlu repot ke dapur untuk segala keperluan printilan.

“Makasih yaaaaaa”

Hidupku berubah sejak itu. Aku kembali kepada kebiasaanku di rumah dulu, minum teh setiap pagi, mengingat aku bisa dengan mudah membuat air panas, cukup tekan tombol power dan tunggu 5 menit.

Lau tiba-tiba di pagi hari itu aku mendapati kamarku sudah banjir…ternyata dia bocor…entah mengapa aku tak mengerti…

Aku mencoba mencari kartu garansi di laci. Ketemu!!! Syukurlah!! Lalu aku membacanya dengan teliti dan aku lemas melihat sebaris kalimat ini “Hanya berlaku apabila dikirimkan ke alamat berikut paling lambat 7 hari setelah tanggal pembelian”

Damn…aku baru tahu betapa pentingnya garansi…dan yang lebih penting adalah aku baru menyadari betapa pentingnya mengikuti prosedur…

“Sedia payung sebelum hujan” kata otang…


Deg-degan

Kata orang Jepang “Doki-doki”, itu untuk menggambarkan perasaan ketika jantungmu berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya. Bisa karena takut, karena excited, karena jatuh cinta, karena demam panggung, atau bahkan hanya karena berpapasan dengan seseorang.

Itu yang aku rasakan sore ini. Bukan karena jatuh cinta, bukan karena demam panggung, apalagi takut. Tapi karena aku bertemu dengan seseorang yang, percaya nggak percaya, entah kenapa membuat jantungku berdetak sangat kencang. Aku bahkan tidak mengenalnya sebelumnya. Melihat wajahnya pun tidak. Kalau teman-teman lelakiku bisa grogi di depan cewek cakep, si mas ini tidak cakep juga. Metroseksual juga enggak. Seksi juga enggak. Cerdas? Yah, dia terlihat cerdas dan manis. Terlihat baik-baik. Hmmm, sepertinya akhir-akhir ini seleraku jadi bergeser dari bad boy jadi good boy. Yah, tapi semanis-manisnya dia, secerdas-cerdasnya dia, bukan itu yang membuatku deg-degan. I don’t know…it’s just somehow, you felt it, out of nowhere…hmmm…interesting.

Secara wajar, ketika menemukan seseorang yang menarik, kamu akan memperhatikannya. Melihat setiap gerak-geriknya, mendengarkan setiap patah katanya, mengikuti setiap arah matanya. Itu juga yang aku lakukan, secara sadar maupun tak sadar. Aku pikir sangat mungkin kalau dia menyadari ini.

Dia yang tadinya sedang memberi coaching sebagai bagian dari On the Job Training tahap akhirku di ODP ini, malah kami buat bercerita tentang pengalamannya selama ini. Maksudku pengalaman bekerja tentunya.

“Iyah, enak anak-anak buahku dulu, aku cuman bilang ke temenku kalau MERTUAku mau datang, besoknya udah ada yang ngejemput di bandara. Padahal aku gak nyuruh apa-apa.”

Ok…rewind…bltbltlbllllttttt….MERTUA…yak…berhenti di kata itu. MERTUA. Cari di kamus…searching…oh ini dia artinya. Mertua=orang tua dari istri atau suami. Wait…ISTRI???? Damn!!!

Honestly, aku memang suka Richard Gere, tapi bukan berarti seleraku om-om. Dan dia sama sekali tidak terlihat om-om. Dia terlihat berusia 27 tahunan, dan dia tidak memakai cincin kawin di sepuluh jari tangannya. Jadi bukan salahku dong, kalau aku masih menganggapnya single pada awalnya tadi.

Damn…udah terlanjur deg-degan…but yeah, he’s still charming anyway…:(