Monthly Archives: January 2011

Everything about you

Malam tadi aku merayakan ulang tahunku yang tentunya terlambat satu hari. Mau gimana, on my birthday, I spent the night in the train, on my way home. So, disinilah aku, Jogja tercinta bersama teman-temanku.

“Jadi ketemuan? Mungkin besok ya mba, ibuku masih di RS”, aku mencoba menawar yg berarti birthday celebration will be 2 days late but that’s okay by me.

“Terserah kamu mbak, it’s ur birthday”, oka bolanya ada di aku lagi, “We’re having a party tonight if u wanna join”

Hm, ajakan ini selalu menggoyahkan imanku.

“Okaylah tonite aja, nanti jemput dan antar aku ke RS ya, jadwal jaga ibuku malam ini”

“Done!”

Jam 7 kami berangkat, bersama dua Germans rekan kerjanya. Salah satunya adalah rekan kerja sekaligus pacarnya.

Menikmati makan malam di Prawirotaman, wow rasanya it’s been years since I got here. Tempat yang lumayan beken ini biasanya jadi tempat pameran seniman muda Jogja. Di jalanan ini kita bisa sekedar jalan menikmati banyaknya losmen dan tempat makan yang sebul (selera bule).

Temanku mulai mengenalkanku pada temannya, teman yang lainnya, teman yang satunya, sampai beberapa orang lagi setelahnya, kami sampai di tempat yg katanya “party” itu.

Awalnya kupikir, ‘oke ini sudah bukan era-ku’ melihat banyaknya abege-abege disitu. Lalu satu persatu adegan dan pemeran seperti menarikku ke dalam lingkaran itu, lorong waktu dimana semua masih menjadi masa-ku. Great friends, dirty talk, hugs and kisses to all, musik indie, logat jawa lengkap dengan pisuhannya, dan tentunya asap rokok dan aroma alkohol.

Teman-temanku mulai berdatangan, tanpa ada janjian. Lalu obrolan mengalir saja, tanpa ada basa-basi. Lalu semua menjadi akrab, beberapa bahkan tanpa perlu kenal sebelumnya. Lalu semua menjadi intim tanpa menjadi murahan. Disitulah kami, menertawakan usia yang masih muda dan bergairah. Menghirup aroma kebebasan dan segala konsekuensinya. Menikmati segala sisi baik dan buruk tanpa sanksi sosial yang munafik.

Semua kenyataan itu, membangunkan kesadaranku, bahwa aku masih manusia yang sama, yang bebas dan bahagia. Batas hanyalah langit. Mari, angkat gelasmu untuk pejuang-pejuang kebebasan ini. You just can’t define someone, let them be. So be it.

Suara vokalis Ugly Kid Joe semakin menghentak dari laptopku, let’s scream…i i i think sex is overrated too…and i…hate everything about you..dum dum dum dum dum dum!

 

Advertisements

Ujung Dunia

Apa yang kamu harapkan?

Mungkin bukan kita.

Bohong kalau aku tidak pernah mengharapkan kita. Karena ketika kamu jatuh cinta yang bersarang di benakmu hanyalah kita.

Sedikit berharap mungkin. Sebenarnya tidak sedikit juga. Kalaupun sedikit itu karena mekanisme pertahanan diri supaya kalau kita tidak jadi ada maka kita tidak terlalu kecewa.

Aku mencintaimu. Bukan untuk kita yang aku yakin tidak akan pernah ada.

Aku mencintaimu karena aku masih mampu memiliki rasa ini. Yang datang mengetuk tiba-tiba dan entah dari mana.

Aku mencintaimu karena rasa-rasa yang timbul ketika bersamamu. Buih-buih di lautan yang menjadi indah luar biasa. Matahari pagi yang menjelma menjadi keajaiban bagiku. Hanya mungkin ketika kamu disampingku. Ah tidak perlu disampingku, membayangkanmu saja cukup.

Aku mencintaimu karena kamu mampu menunjukkan kehebatan rasa itu padaku.

Seribu satu alasan yang lain masih bisa aku berikan, tapi bukan itu yang kita perlukan. Mencintaimu tidak ada di agendaku, tapi membuatku tahu bahwa perasaan yang paling manusiawi di dunia ini masih aku rasakan meski itu kepadamu.

Kita berbeda. Dan ini tidak bisa ditolerir. Tapi perasaan kita sama. Itu sudah cukup menjadi anugerah bagiku.

Surabaya, one time in 2010.