Monthly Archives: April 2011

a cry and a laugh

“Kamu gak lagi kenapa2 kan nga?”, iya dia selalu memanggilku singa, katanya rambutku mengembang seperti raja hutan.

“Kenapa2 banget”, malas aku menanggapi pesan singkatnya itu.

“Ih kok singanya galak gitu ih, nanti tukang becaknya ngambek lho”

“Terserah”

“Kamu lagi apa”

“Dibilangin lagi nangis juga, masih nanya!”

“Lho gara2 apa?”

“Tenang aja bukan gara2 kamu kok, simpati kamu masih belom nyala?”, yah dia pasti khawatir aku marah padanya.

“Masih 😦 nga, kamu lagi apa”

“Auk ah!”

Lalu sebuah nomor telepon genggang Jakarta ber-provider sama denganku masuk ke Blackberry-ku.

“Selamat malam”

“Vit…”

“Lho nomor siapa ini?”

“Nomor ibuku, aku bajak aja, abis kamu nangis”

Berbahagialah dia yang menelponku malam itu, karena aku sungguh sedang seperti macan yang diajak berantem (he?perumpaan macam apa ini). Aku keluarkan semua kegelisahanku, aku umpat semua keadaan, dan tentunya dia hanya menjawab..”Sabar Vit, sabar..”

“Sabar sabar! Gampang buat kamu ngomong sabar!”

“Kalau aku bisa aku juga mau ada disana”

“Hhhhhhhh udah ah”, dan akupun menangis sesenggukan, meninggalkannya bingung sendiri di seberang telpon.

Dia tau, cara  menenangkanku yang sedang mengamuk adalah diam. Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit. Lalu tawaku mengikik…

“Bodo banget ya aku pake nangis sampe kayak gitu”

Barulah seribu satu wejangan mengalir dari mulutnya. Aku yang mulai waras mendengarkan dan berkomentar..”Tumben omonganmu bener”

Itulah dia, yang tidak pernah bisa aku maknai kehadirannya, bahkan sampai saat ini.


Apakah bahagia itu?

Saya tidak percaya pada akhir yang bahagia. Bagi saya, segala jenis bahagia, sedih, susah, senang, adalah bagian dari proses. Dan akhir adalah ketika kita menghembuskan nafas terakhir kita.

Sewaktu saya duduk di bangku sekolah dasar, bagi saya bahagia adalah selesai mengerjakan ebtanas, lulus dengan nilai cukup untuk masuk ke SMP favorit di Jogjakarta. Arti kebahagian bergeser ketika saya masuk ke sekolah itu. Bagi saya, bahagia adalah bisa bermain bersama teman-teman saya dan tetap mendapat nilai bagus untuk melanjutkan ke SMA favorit di seberang SMP saya.

Oke, saya masuk SMA favorit. Lalu apa? Saya merasa kebahagiaan saya yang kemarin tiba-tiba hilang dan menjadi kebiasaan saja. Ulangan, mencontek, ngecengin kakak kelas, bolos, berantem sama teman dan keluarga (maklum puber) dan lain-lain. Tentunya karena saya bertumbuh maka saya punya cita-cita juga. Saya ingin masuk jurusan Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada. Nama besar kampus biru membuat saya stress bukan kepalang mengejar passing grade masuk ke jurusan tersebut. Lalu loloslah saya, alhamdulillah.

Saya kuliah, berteman dengan banyak orang, mengerjakan banyak ekstrakurikuler dan untungnya sudah tidak mencontek lagi karena saya benar-benar mencintai apa yang saya pelajari. Saya bahagia. Ya saya bahagia ketika saya SMA, ketika saya kuliah, dan sepanjang hidup saya.

Tapi kebahagiaan itu tidak mutlak. Tidak melulu saya bahagia karena mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya ingin ke luar negeri saya berangkat ke Australia, gratis pula. Apakah saya bahagia? oh sangat! Sepulang dari Aussie saya cari kerja dan mendapatkan pekerjaan yang bagus di perusahaan BUMN. Apakah saya bahagia? Wah, tidak mungkin tidak.

Tetapi apakah bahagia itu semudah itu urusannya? Saya pikir tidak juga. Bahagia mendapatkan hal baik belum tentu dalam perjalanannya membuat kita bahagia. Cita-cita saya sekarang menikah dan melanjutkan S2, lalu saya lihat lagi ke orang-orang disekitar saya dan pengalaman-pengalaman saya. Apakah mendapatkan cita-cita menjadi indikasi kebahagiaan? Tidak juga, kebetulan alhamdulillah dalam kasus saya, saya benar-benar bahagia. Tapi saya tahu, bagi orang di sekitar saya mungkin mendapatkan apa yang selama ini dicita-citakan tidak membuat bahagia. Lalu, salah siapa? Bukan salah siapa-siapa juga. Mungkin dalam mendapatkan apa yang kita inginkan kita seringkali lupa pada prosesnya.

Jalan yang baik akan menghasilkan kebaikan. Begitupun cita-cita. Bila kita ingin membahagiakan orang tua, jangan lupa berdoa selain hasilnya, kita berdoa supaya Tuhan memberkahi prosesnya, agar lengkap doa kita. Kitapun harus sabar menjalani proses tersebut. Jangan gegabah memutuskan hanya demi sebuah hasil.

Bahagia adalah proses itu sendiri, siapa yang tau hasilnya. Maka, nikmatilah setiap proses kehidupan dengan bahagia dan tidak berhenti mencari kebahagiaan. Kita, sebagai manusia, pasti tidak ingin kebahagiaan hanya semata hasil pencitraan. Bahagia ada di sini, tidak usah dicari kemana-mana. Jangan lengah, semua yang kita anggap bahagia pun bisa terenggut. Maka tetaplah bahagia…apapun yang hidup suguhkan kepadamu. Karena pada akhirnya, semua ini bukan apa-apa…selamat malam teman…:)