Monthly Archives: December 2012

kamar kamar di rumah itu

1

Kamarnya cukup luas dengan jendela besar menghadap halaman depan. Dia sibuk membenahi segala rupa di dalamnya. Botol-botol lotion, sunscreen cream, dan obat-obatan bekal dia selama 1 tahun hidup di daerah tropis dia berikan kepada teman serumahnya yang masih akan menetap lebih lama. Bertelanjang dada dia menghampiri gerombolan teman-teman yang asik bercengkerama di depan kamarnya sore itu, bermain kartu sambil berusaha melupakan waktu yang terasa begitu cepat berlalu. Kamera digital tidak pernah lepas dari tangannya, mengabadikan setiap menit sore terakhir sebelum kembali ke tanah kelahiran. Wajah datar sambil sesekali melemparkan lelucon dan bersenandung. ‘Aku akan memberikan ini untuk orang-orang di pabrik’, ujarnya sambil menunjukkan hasil karyanya. Foto berukuran 1 x 1 meter dengan gradasi warna hitam putih yang dia gunting sedemikian rupa dan diberi pylox hitam.

2

Kamarnya sepi semenjak semalam. Dia lebih memilih menghabiskan waktu terakhir berjalan keliling kota yang telah dia jatuh cintai selama satu tahun ini. Ya, kota, dan salah seorang penghuninya. Kemungkinan besar diapun akan bermalam entah dimana malam ini, untuk mengecap malam terakhirnya. Tentang dia yang satu ini, aku tidak begitu banyak tahu selain sikapnya yang lebih dingin dibanding penghuni lainnya.

3

Mereka masih akan berada di rumah ini sampai beberapa bulan ke depan. Masih banyak waktu untuk mereka habiskan dan membuat iri teman-teman lain. Permainan kartu di ruang tengah menjadi inisiatif mereka untuk mengumpulkan teman-teman yang sedang mengepak barang-barang.

4

Entah kenapa, dengan penghuni satu ini, mataku tidak bisa lepas darinya. Bahkan berkedip-pun sayang aku lakukan. Sejak sebulan yang lalu, aku tidak lagi bisa lepas dari pikiran tentang dia.

“Kamu gak apa-apa?”

“Kamu berharap aku menjawab ‘tidak apa-apa’ kan?”

Dia tidak menjawab lagi. Membiarkan keadaan hening sesaat sebelum dia menghela nafas panjang.

“Maaf ya”

“Hey, buat apa? Maaf tidak akan merubah apa-apa saat ini”

“Karena aku yang membuat semua keadaan menjadi seperti ini”

“Ya, dan aku bersedia diperumit olehmu”, sedikit senyumku untuk memaksakan keadaan terlihat sedikit baik.

I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straightforwardly, without complexities or pride;
so I love you because I know no other way

than this: where I does not exist, nor you,
so close that your hand on my chest is my hand,
so close that your eyes close as I fall asleep.

-Pablo Neruda-