Monthly Archives: September 2013

Bratislava

“Where are we?”
“Bratislava!”
Adegan berikutnya adalah potret kota mati dan angin berhembus setengah kencang sebagai efek dramatis. Bertemulah tiga anak muda asal Amerika tersebut dengan seorang tukang pos bersepeda tempat mereka bertanya arah. Mereka akhirnya menemukan sebuah hotel. Di hotel itu, Scott memberikan keping satu dollar kepada pelayan sebagai tip, dan pelayan tersebut langsung resign dan akan mendirikan hotel sendiri dgn modal 1 USD yg terbuat dari nikel tersebut. Berlebihan cara mereka menggambarkan negara eropa timur tersebut, tapi tentunya membuat penonton terbahak-bahak, termasuk aku.

Aku tidak pernah lupa adegan film Eurotrip itu, dan sekarang aku berada di stasiun kereta api ibukota Slovakia tersebut. Welcome to Slovakia! Papan kedatangan itu membuatku tidak perlu bertanya pada tukang pos bersepeda. Lagipula, sejak di hotel di kota Wina, aku sudah merengek-rengek ingin melihat kota ini. Dia akan berkata bahwa dia tidak tau tentang Bratislava dan tidak berbicara bahasanya. Aku hanya jawab, just be spontaneous, don’t be so German. Ah dia memang begitu, segala sesuatu harus bisa dipastikan. Padahal hari ketiga di Wina telah membuat kami kehabisan ide mau kemana.

Kamipun berangkat dari Hauptbahnhoff yang merupakan stasiun pusat di ibukota Austria tersebut. Syukurlah kami tepat waktu, terlambat 2 menit saja, kereta ke Bratislava sudah berangkat. Tips untuk liburan jarak jauh dan waktu lama, apalagi naik turun pesawat, bis, dan kereta, sebaiknya olahraga teratur, renang atau lari, siapa tau harus mengejar kereta sepertiku. Hampir habis napas karena kurang olahraga.

Tidak jauh berbeda dari kereta jurusan Jakarta-Jogja selain lebih canggih dan bersih, hanya saja yang ini hanya akan berlangsung 1 jam. Kereta melintasi kawasan Austria pinggiran yang tampak seperti kota- kota di Eropa pada umumnya, rapi dan tertata. Namun, tak lama kami sudah memasuki wilayah Slovakia, dan pemandanganpun berubah cukup yah…bisa dibilang drastis, oh bukan drastis, terlalu ekstrim, mari kita sebut saja ‘berbeda’. Daerahnya lebih gersang, selain karena suhu, coret-coretan menggunakan pilox di tembok yang kami lewati, membuat perjalanan ini seolah-olah melintasi Cirebon. Ya, Cirebon. Tidak drastis kan, hanya ‘berbeda’.

Kamipun tiba di stasiun utamanya yang tidak begitu besar, hal pertama yang saya lakukan adalah minta brosur.

“No brochure…no brochure..”, si petugas menjawab pertanyaanku tanpa solusi.

Ah baiklah, setengah hari ini saja kami akan berjalan tanpa peta. Aku tau, dia mulai panik.

Aku kembali coba menanyakan arah city center yang aku dengar menjadi daya tarik utama kota ini. Dengan bahasa Inggris patah-patah perempuan muda ini menjelaskan jalur bis kepada kami. Usai berterima kasih, kami melanjutkan perjalanan, karena kami pada dasarnya tidak paham maksud dari perempuan itu, selain bahwa pusat kota ada di arah selatan..eh bawah..eh tidak tau pastilah, pokoknya ke situ.

Kami mencoba peruntungan sekali lagi, kali ini dia yang bertanya karena lelaki mirip orang India yang kami tanyai ini tidak bisa berbahasa Inggris, tapi lancar berbahasa Jerman. Mungkin karena lokasinya yang tidak jauh dari Wina, membuat bahasa Jerman menjadi bahasa yang lebih dikuasai oleh penduduk kota ini. Dari si Shahrukh Khan ini kami mendapatkan petunjuk yang tiga perempat jelas mengenai arah tempat yang kami cari.

Kesan pertama, bangunannya kotor, jalanan tetap bersih. Bisnya menggunakan tenaga listrik karena dijalankan melalui kabel-kabel di atasnya, ini hal baru buatku. Di tiga kota sebelumnya, hanya trem yang punya rel, ini bis punya rel, tapi relnya di atas. Lho.

Kami melewati kantor Kementrian Keuangan yang gedungnya sebesar gedung SMP, iya kantor kementrian lho itu.

Aku lapar, sangat lapar, sudah hampir jam 3. Tapi…

“Kita beli es krim dulu, makannya di pusat kota saja..”

Aku menurut. Kasian cacing-cacing diperutku.

Eh, ngomong-ngomong es krim, harganya hanya sepertiga harga es krim di Wina. Oops..jangan-jangan Eurotrip benar.

Cukup lama kami berjalan sebelum akhirnya menemukan pusat kota Bratislava. Ah cantik sekali! Bangunan lama dan menara gereja yang sudah berwarna hijau karena teroksidasi membuat romantis. Jalanannya kecil berkonblok namun khusus untuk pejalan kaki. Restoran dan toko oleh-oleh bertebaran di sisi kanan kiri jalan, bahkan sampai ke tengah. Kami makan di salah satunya. Aduh, suasananya sungguh romantis, ditambah alunan musisi jalanan yang bermain harpa dengan lihainya. Eurotrip salah, aku suka Bratislava!

Dua jam sudah kami menghabiskan waktu menikmati sudut kota yang hanya sebagian kecil ini. Sayangnya diluar ini, kota ini tidak begitu terawat. Setelah mampir sebentar di Danube, kami tergoda oleh yacht dan kapal berukuran sedang yang menurut informasi menuju ke Wina. Apalagi masih ada tiket bila kami ingin bergabung malam itu. Padahal kami sudah memegang tiket kereta kembali ke Wina sore ini. Kamipun bertanya harga tiket tersebut.

“30 Euro each”

Aku sudah menduga, kami memang ditakdirkan naik kereta.

Perjalanan kembali ke stasiun kami tempuh dengan berjalan kaki setelah kami salah naik bis. Okelah, untuk amannya kami jalan saja. Sepertinya detik ini kaki saya mati rasa. Kamipun tiba 30 menit lebih awal, cukup waktu untuk segelas kopi.

Sampai jumpa lagi Bratislava, kami akan kembali.

Advertisements