Sunset in Bali

20130217-010009.jpg

Advertisements

kamar kamar di rumah itu

1

Kamarnya cukup luas dengan jendela besar menghadap halaman depan. Dia sibuk membenahi segala rupa di dalamnya. Botol-botol lotion, sunscreen cream, dan obat-obatan bekal dia selama 1 tahun hidup di daerah tropis dia berikan kepada teman serumahnya yang masih akan menetap lebih lama. Bertelanjang dada dia menghampiri gerombolan teman-teman yang asik bercengkerama di depan kamarnya sore itu, bermain kartu sambil berusaha melupakan waktu yang terasa begitu cepat berlalu. Kamera digital tidak pernah lepas dari tangannya, mengabadikan setiap menit sore terakhir sebelum kembali ke tanah kelahiran. Wajah datar sambil sesekali melemparkan lelucon dan bersenandung. ‘Aku akan memberikan ini untuk orang-orang di pabrik’, ujarnya sambil menunjukkan hasil karyanya. Foto berukuran 1 x 1 meter dengan gradasi warna hitam putih yang dia gunting sedemikian rupa dan diberi pylox hitam.

2

Kamarnya sepi semenjak semalam. Dia lebih memilih menghabiskan waktu terakhir berjalan keliling kota yang telah dia jatuh cintai selama satu tahun ini. Ya, kota, dan salah seorang penghuninya. Kemungkinan besar diapun akan bermalam entah dimana malam ini, untuk mengecap malam terakhirnya. Tentang dia yang satu ini, aku tidak begitu banyak tahu selain sikapnya yang lebih dingin dibanding penghuni lainnya.

3

Mereka masih akan berada di rumah ini sampai beberapa bulan ke depan. Masih banyak waktu untuk mereka habiskan dan membuat iri teman-teman lain. Permainan kartu di ruang tengah menjadi inisiatif mereka untuk mengumpulkan teman-teman yang sedang mengepak barang-barang.

4

Entah kenapa, dengan penghuni satu ini, mataku tidak bisa lepas darinya. Bahkan berkedip-pun sayang aku lakukan. Sejak sebulan yang lalu, aku tidak lagi bisa lepas dari pikiran tentang dia.

“Kamu gak apa-apa?”

“Kamu berharap aku menjawab ‘tidak apa-apa’ kan?”

Dia tidak menjawab lagi. Membiarkan keadaan hening sesaat sebelum dia menghela nafas panjang.

“Maaf ya”

“Hey, buat apa? Maaf tidak akan merubah apa-apa saat ini”

“Karena aku yang membuat semua keadaan menjadi seperti ini”

“Ya, dan aku bersedia diperumit olehmu”, sedikit senyumku untuk memaksakan keadaan terlihat sedikit baik.

I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straightforwardly, without complexities or pride;
so I love you because I know no other way

than this: where I does not exist, nor you,
so close that your hand on my chest is my hand,
so close that your eyes close as I fall asleep.

-Pablo Neruda-

 


– better is not the best, yet –

Ya, saya dalam perjalanan. Saya selalu membayangkan titik dalam perjalanan itu dimana saya  tidak lagi berakhir di kamar ini, di kota ini, dan melakukan rutinitas ini.

Saya merasa berusaha tapi ah..subjektif sekali penilaian saya.

“So. how many applications have you submit?”

“Two”

“The last time I ask was two”

“Yeap hasn’t change”

“You should really try to make more application if you want to get it”

“I know you’re right”

Dan itu membuat perasaan galau karena belum melakukan banyak hal untuk mencapai impian muncul lagi dalam hari-hariku.


Sederhana

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Berdoa”

Bertemu teman lama selalu membangkitkan apa yang sudah lama diabaikan. Jawabannya terkadang sangat sederhana, saya saja yang suka memperumit keadaan. Kesannya hidup kurang menarik tanpa lika-liku di dalamnya. Ah saya sombong sekali sekarang. Menilai segala sesuatu begitu rumit, berusaha memecahkan semuanya sendiri. Merasa tidak berguna ketika tidak menemukan jalan keluar. Merasa gagal. Lupa bahwa manusia bukan segalanya. Lupa bahwa kekuatan terbesar bukan milik manusia.

 

 


GALAU

Jaman sekarang sangat melekat kata-kata ‘galau’, yang sebelum kata itu ngetrend, kita sampai lupa bagaimana kita mendeskripsikan perasaan yang ditimbulkan dari kata itu. BT mungkin yang paling mirip, tapi sepertinya kurang pas juga. Mellow mungkin. Yah biasanya bisa diartikan bimbang, kangen, kesepian, dan entah apa lagi.

Entahlah..

Daripada mendefinisikan kata, lebih baik mendefinisikan rasa. Rasa yang sepertinya wajib dialami setiap kita, haha bahkan rasa pun bisa menjadi sebuah trend. Bahkan menjadi komoditas. Rasa menjadi konstruksi pemikiran berdasarkan referensi sosial media dan pop culture. Tentu tidak ada yang salah dengan itu.

Tapi buat saya, rasa itu sesuatu yang intim, privat, yang sampai saat ini tidak bisa saya bagi dengan hanya siapapun. Selain kepada inner circle saya tentunya. Ya, panggil saya sentimental, konvensional, dan al al yang lain yang saya sendiri kurang paham artinya.

Ahaha saya tidak sedang galau, saya sendiri tidak tahu artinya, saya punya banyak rasa, mungkin ‘galau’ dalam pengertianImage saya berarti ‘kesulitan mendefinisikan rasa’ 😀

-sedikitsoktaudimalamsenin-


Pleketek kewes kewes

Om (adek dari ibu) sering mengatakan ini padaku kalau aku mulai asal menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Kali ini, giliranku yang mengatakannya, bukan untuk om-ku, tapi untuk beberapa hal yang seakan begitu klise terjadi padaku. Perlakuan yang membuatku kehilangan makna karena terus berulang. Kata-kata yang bermakna ambigu tanpa mau menjelaskan arti harfiahnya. Keputusan yang bisa ditebak arahnya.

Entahlah, aku kehilangan makna. Atas peristiwa. Atas kata. Atas ekspresi.

suka. benci. rindu. cinta. dusta. senang. riang. duka.

Ah opo iku, pleketek kewes kewes!!


Eid Mubarak

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Indonesia punya dua perhitungan untuk menentukan kapan 1 Syawal tiba. Dengan rukiyat dan hisab. Biasanya perbedaannya satu hari. Rukiyat ini konon adalah penentuan 1 Syawal dengan terlihatnya hilal (bulan baru), sedangkan hisab kabarnya adalah penentuan dengan perhitungan kapan bulan Ramadhan barakhir (artinya bulan sudah selesai memutari satu putaran bumi dalam kalender Hijriah). Sehingga mau tidak mau, pastilah hisab lebih bisa memberi kepastian jauh hari sebelumnya.

Either way, terserah Anda mau menganut yang mana, asalkan tidak saling memaksakan. Yang jadi masalah adalah pemerintah baru menentukan 1 Syawal di detik2 terakhir, saat sebagian Indonesia sudah mengumandangkan takbir. Walhasil bagi yang menjadi pengikut pemerintah, ditundalah Lebaran mereka satu hari. Sedangkan bagi saya dan sebagian besar penduduk kota Yogyakarta, kami tetap berlebaran esoknya alias tidak ikut pemerintah. Nah ini kemudian digembar-gemborkan oleh media, sehingga perbedaan lebaran yang biasa terjadi setiap tahun menjadi masalah besar tahun ini dengan diwarnai kerusuhan di beberapa daerah (menurut info seorang teman wartawan).

Mau jadi apa bangsaku ini kalau tidak pernah bisa menyikapi perbedaan. Ya, deviasi akan selalu ada dari tatanan yang sudah rapi, tapi ya jangan sampai dong deviasi itu lebih besar dan lebih heboh dari tatanan tersebut. Maksudnya, walopun saya yakin banyak dari kita yang sangat terbuka dan toleran, tapi jangan sampai yang toleran ini tertutupi oleh yang biadab. Disikapi secara santai ajalah, why so serious. Kita kan gak berhak atas hidup orang lain toh, gak berhak atas pilihan2 orang lain juga.

Jadi…Eid Mubarak! Mohon maaf lahir batin, semoga kehidupan di muka bumi menjadi lebih baik tahun ini dan kedepannya. Amin.